Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil membukukan apresiasi pada penutupan perdagangan hari Jumat, 21 Agustus 2026. Pada sesi akhir perdagangan tersebut, rupiah menguat sebesar 0,31 persen sehingga bertengger di posisi Rp17.685 per dolar AS. Kinerja positif ini berhasil memperpanjang tren penguatan mata uang Garuda menjadi tiga hari perdagangan berturut-turut. Selain itu, posisi penutupan di akhir pekan ini tercatat sebagai level rupiah terkuat sejak 22 Mei 2026.
Pergerakan menguat mata uang Garuda telah tampak sejak awal sesi transaksi Jumat dibuka. Rupiah tercatat dibuka menguat sebesar 0,14 persen ke level Rp17.720 per dolar AS. Sepanjang sesi berlangsung, posisi mata uang rupiah terus mengalami kenaikan dan bertambah kuat sebanyak 35 poin hingga pasar resmi ditutup. Apabila dihitung secara mingguan, rupiah berhasil mencatatkan apresiasi sekitar 0,76 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada hari Jumat pekan lalu yang berada di level Rp17.820 per dolar AS.
Saham-Saham Bank Kompak Menguat, Topang IHSG di Zona Hijau

Apresiasi mata uang rupiah bertepatan dengan melandainya kekuatan dolar AS di pasar internasional. Indeks dolar AS (DXY), yang digunakan sebagai tolok ukur kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat mengalami penurunan sebesar 0,18 persen ke posisi 98,718 pada pukul 15.00 WIB. Tekanan pada mata uang AS tersebut hadir seiring adanya rencana kebijakan dari Departemen Keuangan AS. Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk menggandakan nilai pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah tenor 10 sampai 30 tahun menjadi sekurang-kurangnya US$4 miliar per operasi.
Di samping sentimen pasar global, penguatan nilai tukar rupiah juga ditopang oleh perkembangan positif pada indikator fundamental perekonomian domestik. Bank Indonesia (BI) merilis laporan mengenai kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencatatkan defisit sebesar US$0,9 miliar pada kuartal II-2026. Defisit NPI pada periode kuartal kedua ini mengalami penyusutan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan defisit neraca pembayaran pada kuartal sebelumnya yang menyentuh angka US$9,1 miliar.
Asumsi Makro RAPBN 2027 dan Pengaruh Kebijakan Global terhadap Pasar Keuangan

Perbaikan pada posisi Neraca Pembayaran Indonesia tersebut secara mendasar disokong oleh transaksi modal dan finansial yang berhasil mencatat surplus. Peningkatan surplus transaksi modal dan finansial ini terjadi sejalan dengan naiknya aliran dana masuk dari investasi langsung dan investasi portofolio ke dalam negeri. Di samping itu, ketahanan eksternal perekonomian nasional didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 yang tetap terjaga sebesar US$145,6 miliar, di mana jumlah tersebut tercatat setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor.






