Operasi pencarian delapan orang yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau memasuki hari ketiga pada Kamis, 10 September 2026. Meski penyisiran laut yang berlangsung selama belasan jam belum membuahkan hasil, harapan keluarga terhadap keselamatan jurnalis merdeka.com, Arie Basuki (Arbas), tetap terjaga.
Dalam misi tersebut, Kapal Negara (KN) Tetuka 247 milik Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) bertolak dari Pelabuhan Ciwandan pada pukul 08.00 WIB. Kapal ini membawa tim gabungan yang terdiri atas kru Basarnas serta personel bantuan dari Badan Keamanan Laut (Bakamla), Polairud, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Penyisiran Jalur Creeping Line di Rakata Besar
Tim SAR gabungan memfokuskan pencarian di kawasan perairan sebelah barat Pulau Rakata Besar hingga ke area mulut Samudra Hindia. Kapal berlayar menyusuri lintasan bolak-balik sebanyak empat kali sembari bergeser perlahan ke arah timur menggunakan pola creeping line untuk memastikan tidak ada area perairan yang terlewat.
Dalih Pria Cekoki Narkoba ke Mahasiswi hingga Tewas di Jakarta Barat

Fokus operasi adalah menemukan keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dinyatakan hilang saat bertugas. Arbas, salah satu jurnalis yang dicari, bekerja untuk merdeka.com di bawah naungan Kapanlagi Youniverse (KLY).
Ikatan Erat dan Kenangan Perjalanan
Bagi Lintang Sapto Edi, pencarian ini membawa beban emosional yang mendalam. Pria kelahiran 1979 tersebut merupakan adik bungsu Arbas. Keduanya adalah putra dari Irsam, seniman pelukis dekoratif asal Klaten lulusan ASRI (kini ISI Yogyakarta). Dari lima bersaudara鈥攅mpat laki-laki dan satu perempuan鈥擜rbas merupakan anak keempat.
Penumpang KM Virgo Selamat, Tak Ada Alarm, Kapal Miring Cepat Lalu Tenggelam

Lintang yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi travel kerap mendampingi kakaknya meliput ke berbagai daerah berisiko tinggi. Keduanya terbiasa bergantian menyetir saat menempuh rute jarak jauh, seperti saat liputan letusan Gunung Kelud hingga ke kawasan Muncar di Banyuwangi.
Pelayaran KN Tetuka 247 berlangsung selama 14 jam sebelum akhirnya merapat kembali di Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 22.00 WIB. Hingga kapal bersandar pada Kamis malam, operasi penyisiran belum menemukan petunjuk maupun tanda-tanda keberadaan delapan korban yang hilang di perairan Selat Sunda.






