Skandal dugaan korupsi yang menyeret mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) periode 2016-2024, Chairul Anwar, membuka mata publik tentang nasib satwa yang menjadi korban keserakahan manusia. Pihak kejaksaan menengarai bahwa pemotongan anggaran pakan satwa telah berdampak langsung pada rusaknya fasilitas, lingkungan yang kotor, hingga menurunnya kondisi kesehatan hewan-hewan di kawasan konservasi tersebut. Kasus ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai standar kelayakan hidup satwa yang seharusnya dipenuhi oleh pengelola kebun binatang.
Memenuhi kebutuhan perut satwa liar bukanlah perkara sederhana yang bisa diakali dengan pemangkasan dana. Pakar satwa dan dokter hewan dari Universitas Airlangga, Boedi Setiawan, memaparkan bahwa porsi makan harian hewan harus dihitung secara presisi berdasarkan bobot tubuhnya. Kebutuhan ideal berkisar antara lima hingga sepuluh persen dari total berat badan hewan tersebut. Sebagai gambaran, seekor harimau yang memiliki berat seratus kilogram wajib mendapatkan asupan makanan sebanyak sepuluh kilogram setiap harinya agar kesehatannya tetap terjaga.
Lebih jauh lagi, kualitas pakan tidak kalah penting dari sekadar kuantitas. Di habitat aslinya, harimau memangsa hewan utuh seperti rusa atau babi hutan lengkap dengan tulang-tulangnya yang kaya akan kalsium. Jika pengelola kebun binatang hanya memberikan daging murni, hewan buas ini berisiko tinggi mengalami hipokalsemia atau kekurangan kalsium. Kondisi ini sangat fatal karena dapat menyebabkan kelainan tulang, cacat fisik, hingga membuat harimau berjalan pincang. Untuk menyiasati biaya tanpa mengorbankan nutrisi, Boedi menyarankan pencampuran pakan, misalnya empat kilogram daging murni dipadukan dengan satu kilogram ayam utuh bertulang.
MUI Tegaskan Penolakan Terhadap LGBTQ dalam Kongres Umat Islam Indonesia

Perhatian khusus juga wajib diberikan kepada kelompok herbivora seperti jerapah. Mamalia berleher panjang ini juga membutuhkan asupan dedaunan sebanyak sepuluh persen dari bobot tubuhnya. Cara penyajiannya pun tidak boleh sembarangan, pakan harus digantung di tempat yang tinggi untuk merangsang perilaku makan alami mereka seperti di alam liar. Selain urusan perut, perlindungan dari dalam tubuh melalui vaksinasi rutin mutlak diperlukan. Harimau, misalnya, rentan terhadap penyakit distemper sehingga membutuhkan jenis vaksin yang serupa dengan kucing peliharaan pada umumnya.
Kesejahteraan satwa juga sangat bergantung pada kebebasan mereka bergerak. Ruang gerak di lembaga konservasi yang rata-rata hanya berukuran seratus meter persegi tentu sangat kontras dengan wilayah jelajah di alam liar yang bisa mencapai tiga kilometer persegi. Oleh karena itu, kandang harus didesain agar hewan memiliki ruang yang cukup untuk berjalan maupun berenang. Menurut Boedi, indikator keberhasilan sebuah lembaga konservasi sangat sederhana, yakni jika hewan dipelihara dengan hati dan standar kesejahteraan yang baik, mereka akan memiliki tubuh yang berisi dan mampu berkembang biak secara rutin.
Konsumen Apartemen LRT City Tuntut Pengembalian Dana Akibat Pembangunan Mangkrak

Di tengah sorotan tajam publik, pihak PDTS KBS menepis tudingan penelantaran satwa. Direktur Operasional dan Umum PDTS KBS, Nurika Widyasanti, menegaskan bahwa rutinitas pemberian pakan tetap berjalan normal sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari sebelum perawat satwa pulang. Pihaknya juga mengklaim terus berupaya meningkatkan kualitas hidup hewan melalui program pengayaan yang mendorong satwa bertingkah laku alami. Nurika memastikan bahwa perawatan dan pemeliharaan di KBS saat ini masih berjalan optimal dan mematuhi kaidah kesejahteraan satwa, terlepas dari isu kekurangan pakan yang sedang ramai diperbincangkan.






