Dentangan palu beradu dengan lembaran aluminium terdengar bersahut-sahutan di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti, Citeureup, Kabupaten Bogor. Dari bilik-bilik rumah warga, ketukan berirama tak-tek-tok tersebut menandai proses pembuatan aneka kerajinan logam yang menjadi urat nadi perekonomian setempat selama bertahun-tahun.
Salah satu perajin yang menggantungkan hidup dari keahlian ini adalah Mansur (67). Berbekal keterampilan yang diwariskan dari sang ayah, Mansur telah 15 tahun menekuni pembuatan kerajinan aluminium. Awalnya, warga di kawasan tersebut memproduksi kompor minyak tanah serta peralatan dapur. Namun, ketika pasokan minyak tanah beralih dan bahan bakar batu bara sulit didapat, mereka beradaptasi menciptakan produk lain, terutama kaleng kerupuk mini dan loyang kue.
Digitalisasi Lewat Komunitas Kampung Kaleng
Transformasi usaha perajin tradisional mulai terdorong sejak hadirnya inisiatif Kampung Kaleng pada pertengahan 2015. Komunitas ini didirikan oleh Arif untuk menjembatani persoalan promosi dan pemasaran hasil karya para warga. Pemasaran kemudian diperluas ke kanal digital, termasuk membuka etalase daring di Shopee sejak 11 tahun lalu yang kini mengantongi puluhan ribu pesanan dengan penilaian 4,7 dari 5 bintang.
Saat masa pembatasan aktivitas selama pandemi COVID-19, volume pesanan Kampung Kaleng bahkan sanggup menyentuh ribuan pesanan per bulan, khususnya pada periode menjelang hari raya. Penjualan daring diperkuat dengan siaran langsung harian yang dijalankan kreator konten lokal seperti Moya (23), yang menggelar siaran tiga jam sehari untuk mempromosikan produk unggulan kaleng kerupuk mini.
Harga Pertamax Turbo dan Dex Series Naik Mulai 1 September 2026, Ini Rinciannya

Dengan pemanfaatan platform digital, hasil kerajinan warga Citeureup ini sanggup menembus pasar luar negeri. Kampung Kaleng tercatat pernah mengirimkan produk hingga 2.000 unit dalam sekali pengiriman ke Malaysia dan Filipina.
Kenaikan Bahan Baku dan Kontribusi Sektor Kreatif
Di tengah upaya mempertahankan geliat ekspor dan penjualan domestik, perajin kini berhadapan dengan tantangan naiknya harga bahan baku aluminium sekitar 20 persen. Kondisi tersebut memaksa pengelola melakukan penyesuaian harga jual produk setiap pekannya.
Lonjakan harga bahan baku di tingkat lokal sejalan dengan tren pasar global. Data London Metal Exchange (LME) mencatat harga aluminium naik lebih dari 13 persen sejak eskalasi konflik di Timur Tengah pada 28 Februari, hingga menyentuh kenaikan total 19 persen sepanjang 2026. Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar 7 persen pasokan aluminium dunia yang jalur distribusinya bergantung pada Selat Hormuz.
Perkuat Daya Saing Industri Hijau melalui PLTS Atap 2,2 MWp

Secara nasional, produk kriya dan UMKM memegang peranan krusial bagi perekonomian. Data Kementerian UMKM mencatat pada 2025 terdapat 65,5 juta unit UMKM di Indonesia yang menyerap 97 persen tenaga kerja serta berkontribusi setidaknya 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan ekspor subsektor kriya nasional mencapai US$ 11.101,0 juta, melengkapi ekspor fesyen sebesar US$ 14.860,9 juta dan kuliner senilai US$ 645,1 ribu.
Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang menilai adopsi ekosistem digital menjadi langkah penting agar pelaku UMKM dapat memperluas jangkauan pasar. Dengan basis pengguna internet di Indonesia yang dicatat We Are Social mencapai 221 juta orang atau 79,5 persen dari total populasi, integrasi kanal digital membuka jalan bagi kerajinan lokal Kampung Dukuh untuk terus bertahan dan menjangkau pembeli mancanegara.






