Gelombang protes terhadap kebijakan dan fasilitas publik di India kini merambah ke generasi yang lebih muda. Setelah aksi Generasi Z memprotes pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi, anak-anak Generasi Alpha mulai turun ke jalan untuk menuntut pembenahan fasilitas serta mutu pendidikan di berbagai daerah.
Sebelumnya, gerakan protes Gen Z berpusat di Jantar Mantar, New Delhi, sejak awal Juni untuk menyoroti skandal kebocoran ujian kelulusan dan tingginya angka pengangguran pemuda. Kelompok satir Cockroach Janata Party (CJP) yang memimpin aksi tersebut kemudian memperluas fokus ke ranah pendidikan dasar lewat kampanye "School Thik Karo" (Perbaiki Sekolah) pada 15 Agustus. Tak lama berselang, aksi protes siswa merebak di sedikitnya 10 negara bagian, termasuk Maharashtra, Bihar, Rajasthan, Jharkhand, dan Madhya Pradesh.
Bos LPS Ungkap Tujuan Digelarnya Lampung Financial Festival 2026

Berbagai aksi lapangan dilakukan secara langsung oleh murid-murid sekolah dasar. Di Desa Samuhi Bhatpurwa, Uttar Pradesh, sebanyak 122 siswa SD negeri menolak masuk kelas pada 22 Agustus. Anak-anak yang sebagian masih berusia enam tahun itu menagih janji pembangunan gedung sekolah baru, mengingat lokasi belajar mereka masih dipenuhi puing akibat dinding yang runtuh dan melukai seorang siswi pada 2023. Aksi mogok belajar tersebut rampung setelah Pejabat Pendidikan Wilayah Deepak Awasthi menemui para murid dan memberikan komitmen pembangunan gedung. Di wilayah lain seperti Bihar, sekitar 50 siswa menempuh jalan kaki sepanjang 4 kilometer pada 28 Juli untuk memprotes buruknya mutu makanan program sekolah kepada pejabat setempat.
Puluhan Tenda untuk Sekolah Darurat Dibangun Pascagempa NTT

Aksi massa usia dini ini mencerminkan persoalan struktural pada sistem pendidikan India yang melayani 247 juta siswa di 1,5 juta sekolah. Data pemerintah menunjukkan lebih dari 100.000 sekolah hanya memiliki satu guru untuk melayani seluruh jenjang kelas, sementara ribuan sekolah lain tercatat tanpa murid. Kendati audit pemerintah periode 2025–2026 mencatat penurunan angka putus sekolah serta rasio rata-rata satu guru per 24 murid, kesenjangan sarana fisik dan tenaga pendidik di daerah pedotelan masih memicu gelombang kekecewaan di tingkat akar rumput.






