Sistem perbankan di Rusia tengah menghadapi tekanan likuiditas dalam mata uang rubel yang berdampak terhadap stabilitas keuangan nasional. Sejak awal tahun, penarikan dana tunai dari sistem perbankan domestik telah mencapai sekitar 2 triliun rubel atau setara dengan US$ 25,2 miliar. Pengurasan likuiditas tunai dalam jumlah besar ini memicu kondisi keuangan yang kian ketat di kalangan perbankan. Dampak langsungnya, kemampuan bank-bank di Rusia untuk menyerap dan membeli instrumen obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah menjadi sangat terbatas di tengah kebutuhan pembiayaan negara yang semakin besar.
Kondisi sulit ini dikonfirmasi oleh jajaran pimpinan industri perbankan domestik. Taras Skvortsov, yang menjabat sebagai Vice President sekaligus Chief Financial Officer Sberbank, menyampaikan penjelasan terkait keterbatasan kapasitas finansial yang dihadapi perbankan saat ini. Menurut Skvortsov, ketersediaan dana di lembaga perbankan kini sangat diprioritaskan untuk menjaga fungsi dasar perbankan, yakni menyalurkan kredit kepada para nasabah. Keterbatasan dana tunai yang ada membuat bank tidak lagi memiliki ruang yang longgar untuk mengalokasikan modal pada pembelian surat utang pemerintah. Dalam keterangannya, Skvortsov menegaskan, "Saat ini, bank hanya memiliki dana yang cukup untuk dipinjamkan kepada nasabah. Itulah bisnis inti mereka."








