PT Pertamina (Persero) secara konsisten terus menegaskan peran strategis dari Terminal LPG Tanjung Sekong yang berlokasi di Cilegon, Provinsi Banten. Fasilitas infrastruktur gas ini memegang peranan yang sangat penting dan krusial dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional di seluruh wilayah Indonesia. Mengingat fungsinya yang sangat vital bagi pemenuhan kebutuhan energi masyarakat sehari-hari, terminal penampungan dan distribusi gas ini telah secara resmi menyandang status sebagai Objek Vital Nasional. Status tersebut menunjukkan bahwa fasilitas ini merupakan aset negara yang harus senantiasa dilindungi kelancaran operasionalnya untuk menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat luas.
Kontribusi Terminal LPG Tanjung Sekong terhadap pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri terbukti sangat masif dan memegang posisi yang signifikan. Fasilitas ini memikul tanggung jawab operasional yang besar untuk memasok sekitar 35 hingga 40 persen dari total kebutuhan LPG nasional secara keseluruhan di Indonesia. Distribusi pasokan gas dari terminal energi ini menjangkau wilayah geografis yang sangat luas dan mencakup daerah padat penduduk. Tercatat, terminal ini melayani kelancaran distribusi pasokan gas ke 63 kabupaten dan kota yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga menyeberang ke wilayah Sumatera Selatan.
Guna memastikan seluruh fasilitas dan infrastruktur beroperasi dengan tingkat keandalan yang optimal, jajaran manajemen puncak Pertamina secara rutin melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, memimpin langsung kegiatan Management Walkthrough di Terminal LPG Tanjung Sekong pada hari Rabu, 29 Juli. Kunjungan kerja ke fasilitas yang berada di Cilegon, Banten tersebut dilakukan untuk memantau dari dekat kesiapan operasional mesin dan sumber daya manusia. Langkah pemantauan ini penting untuk memastikan keandalan sistem distribusi energi agar tidak terjadi hambatan operasional yang dapat mengganggu ketersediaan pasokan gas.
LRT Jakarta Buka Uji Coba Rute Kelapa Gading-Manggarai Gratis, Simak Prosedur Pendaftarannya

Melihat rekam jejak sejarah perkembangannya, Terminal LPG Tanjung Sekong pertama kali mulai dioperasikan untuk melayani kebutuhan energi nasional pada tahun 2012. Seiring dengan terus meningkatnya tren permintaan LPG di tengah masyarakat dari waktu ke waktu, Pertamina kemudian mengambil langkah strategis dengan melakukan peningkatan kapasitas dan kapabilitas fasilitas ini menjadi Terminal LPG Refrigerated pada tahun 2020. Saat ini, kompleks infrastruktur penyaluran gas tersebut berdiri di atas lahan dengan luas mencapai 12,9 hektare, yang tentunya dikelola dengan standar operasional tinggi untuk menunjang aktivitas penyimpanan maupun distribusi energi secara aman.
Secara kapasitas teknis, terminal ini dirancang secara khusus untuk mampu menampung volume gas dalam jumlah yang sangat besar, dengan kapasitas penyimpanan maksimal mencapai 98.000 metrik ton (MT). Guna menunjang kelancaran aktivitas bongkar muat dari kapal pengangkut gas yang berlabuh, Terminal LPG Tanjung Sekong didukung oleh keberadaan tiga dermaga laut yang memiliki kapasitas sandar bervariasi, mulai dari 3.500 hingga 65.000 DWT. Kombinasi antara kapasitas penyimpanan yang sangat masif dan ketersediaan fasilitas dermaga yang memadai tersebut membuat terminal ini memiliki kemampuan untuk menangani throughput atau volume penyaluran gas hingga mencapai lebih dari 200.000 MT setiap bulannya.
RSUP Dr. Sardjito Beralih ke Gas Bumi PGN, Raih Efisiensi Operasional hingga 75 Persen

Selain mengandalkan kapasitas infrastruktur fisik yang mumpuni, Pertamina juga terus berupaya memperkuat tingkat efisiensi rantai pasok energi melalui penerapan teknologi modern. Langkah penguatan efisiensi operasional ini dijalankan melalui implementasi program digitalisasi pada berbagai lini kerja. Upaya digitalisasi tersebut mencakup sistem pemantauan stok gas yang dilakukan secara real-time, serta optimalisasi waktu sandar kapal di area dermaga. Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, turut menegaskan bahwa Terminal LPG Tanjung Sekong beroperasi secara penuh selama 24 jam sehari. Pengoperasian tanpa henti ini dilakukan semata-mata untuk memastikan rantai distribusi pasokan energi tetap tersedia secara berkesinambungan bagi masyarakat.






