Perencana keuangan mengingatkan pentingnya membangun dana darurat dan proteksi asuransi sesegera mungkin sebagai mitigasi risiko finansial ketika bencana melanda. Kesiapan finansial perlu dimulai saat seseorang menyadari potensi risiko bencana dapat menimpa siapa saja tanpa diduga.
Perencana Keuangan Andi Nugroho menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk menyiapkan dana darurat adalah begitu kesadaran akan ancaman risiko muncul. Menurutnya, besaran ideal dana darurat minimal mencapai tiga kali penghasilan bulanan. Sementara itu, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, menyarankan patokan minimal tiga kali pengeluaran bulanan yang segera direalisasikan lewat langkah konkret.
Pemilihan Instrumen yang Likuid dan Minim Risiko
Untuk penempatan instrumen, dana darurat wajib dialokasikan pada produk keuangan yang memiliki risiko rendah dan sangat mudah dicairkan sewaktu-waktu. Dandy menegaskan bahwa dana darurat sangat tidak dianjurkan untuk dimasukkan ke instrumen berisiko tinggi seperti saham demi mengejar keuntungan semata. Menyimpan dana di rekening bank dinilai paling aman dan likuid dibandingkan memegang uang tunai dalam jumlah banyak yang berisiko di tengah kondisi darurat.
Jika Harga Minyak Terus Mendidih, Pertamax Bisa Tembus Rp 20.000/Liter

Andi memaparkan beberapa alternatif instrumen likuid yang dapat dimanfaatkan masyarakat, mulai dari rekening bank, deposito, logam mulia, hingga reksa dana berbasis pasar uang maupun pendapatan tetap.
Penguatan Proteksi Lewat Asuransi
Selain cadangan dana tunai, kepemilikan asuransi dinilai penting sebagai pengungkit keuangan atau leverage. Dengan premi yang relatif kecil, pemegang polis bisa memperoleh nilai pertanggungan finansial yang jauh lebih besar guna mengantisipasi dampak kerugian bencana.
Karyawan Telkom Pindah dari Graha Merah Putih Setelah Disewa BGN

Asuransi kesehatan menjadi opsi perlindungan tambahan, terutama bagi individu yang belum memiliki proteksi atau merasa kurang nyaman bila hanya mengandalkan BPJS Kesehatan. Bagi tulang punggung keluarga dan kelompok generasi roti lapis (sandwich generation), asuransi jiwa sangat disarankan demi memastikan kelangsungan hidup keluarga apabila pencari nafkah meninggal dunia. Jika anggaran masih memadai, asuransi rumah dan kendaraan bermotor juga dapat ditambahkan.
Terkait porsi anggaran, Andi menyebutkan alokasi antara simpanan dana darurat dan asuransi dapat dibagi seimbang 50 persen berbanding 50 persen atau disesuaikan dengan kebutuhan individu. Adapun Dandy menganjurkan masyarakat menyisihkan sekitar 10 persen hingga 20 persen dari pendapatan rutin khusus untuk kebutuhan premi asuransi.






