Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memberikan klarifikasi mengenai rencana kegiatan pelayaran bersama antara armada Indonesia dan China di kawasan lepas pantai timur Taiwan. Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menyampaikan bahwa latihan bersama bertajuk passing exercise tersebut sama sekali bukan bersifat latihan perang atau war fighting. Saat dimintai konfirmasi pada Rabu (12/8/2026), Kadispenal menegaskan bahwa passing exercise merupakan sebuah tradisi angkatan laut yang berlaku secara universal di seluruh dunia ketika armada kapal perang suatu negara sedang melintasi wilayah perairan negara lain.
Kegiatan passing exercise ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian perjalanan lintas laut (linla) yang dilakukan oleh kapal perang Indonesia, KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR)-332. Kapal fregat milik TNI AL tersebut sebelumnya telah tiba di Pier 33 di Vladivostok, Federasi Rusia, pada 23 Juli 2026. Kedatangan KRI I Gusti Ngurah Rai ke Rusia bertujuan untuk berpartisipasi dalam Latihan Bersama (Latma) ORRUDA (Orel Garuda) 2026 yang digelar antara TNI AL dan Angkatan Laut Federasi Rusia. Latihan bersama di Rusia itu berlangsung dalam dua tahapan utama, yakni Harbour Phase yang dilaksanakan pada 24 hingga 26 Juli 2026, serta Sea Phase yang digelar pada 27 sampai 28 Juli 2026.
Erick Thohir Berterima Kasih kepada Prabowo atas Kepercayaan Transformasi Kemenpora

Setelah menyelesaikan seluruh agenda Latma ORRUDA 2026 di Vladivostok, KRI I Gusti Ngurah Rai berlayar kembali menuju tanah air. Dalam perjalanan pulang tersebut, TNI AL merencanakan pelaksanaan passing exercise secara terbatas dengan angkatan laut dari negara-negara yang rutenya dilintasi. Pihak TNI AL mendefinisikan passing exercise sebagai bentuk latihan bersama yang bertujuan untuk menyambut dan mengantarkan kapal perang asing. Selain dengan angkatan laut China, KRI I Gusti Ngurah Rai juga dijadwalkan akan melaksanakan passing exercise dengan angkatan laut dari beberapa negara lain yang dilintasi, termasuk Jepang serta Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat.
Sebelumnya, rencana latihan di kawasan perairan tersebut sempat memicu respons diplomatis dari pemerintah Taiwan. Pada Selasa (11/8), Kementerian Pertahanan China mengumumkan bahwa salah satu kapal perangnya bersama sebuah kapal fregat Indonesia akan melaksanakan latihan pelayaran di sebelah timur Taiwan pada pertengahan Agustus. Pengumuman ini mendapat kecaman keras dari pemerintah Taiwan, khususnya melalui Dewan Urusan Daratan yang merupakan badan kebijakan tertinggi Taiwan dalam menangani urusan China. Lembaga tersebut mengutuk keras rencana kegiatan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari provokasi militer oleh Chinese Communist Party (CCP).
Penghentian Pemanfaatan Ruang Laut di Gresik dan Pentingnya Menjaga Cadangan Karbon Sedimen

Pemerintah Taiwan menilai bahwa langkah Beijing yang mengumumkan latihan pelayaran bersama di kawasan tersebut merupakan upaya untuk menciptakan kesan palsu bahwa China memiliki yurisdiksi atas wilayah perairan sekitarnya. Sebagaimana diketahui, China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan bersikeras memiliki otoritas atas perairan di sekeliling pulau tersebut, sebuah klaim yang secara tegas ditolak oleh pihak Taiwan. Namun, TNI AL memastikan bahwa passing exercise yang melibatkan KRI I Gusti Ngurah Rai murni merupakan tradisi diplomasi dan penghormatan dalam dunia maritim internasional saat armada kapal perang berlayar melintasi rute antarnegara.






