Bursa saham Wall Street dan pasar obligasi Amerika Serikat mengalami tekanan berat pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Pelemahan serentak ini terjadi di tengah upaya Departemen Keuangan AS meluncurkan program pembelian kembali (buyback) surat utang negara demi menekan lonjakan imbal hasil pinjaman pemerintah. Nyatanya, intervensi tersebut belum mampu menenangkan pasar keuangan secara menyeluruh.
Langkah buyback surat berharga negara hanya memberikan efek penenang sesaat. Tak lama setelah kebijakan bergulir, yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun kembali melonjak ke level 4,697 persen, mendekati rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Strategi Fixed Income LPL Financial, Lawrence Gillum, menilai skema buyback ini sekadar solusi sementara yang tidak menyentuh akar permasalahan fiskal dan utang AS.
Tekanan di pasar modal kian diperparah oleh rilis kinerja keuangan korporasi besar. Raksasa ritel Walmart mencatatkan pertumbuhan penjualan terlemah dalam enam tahun terakhir, memicu kekhawatiran merosotnya daya beli konsumen. Saham Walmart langsung anjlok 9,2 persen. Penurunan tajam ini menyeret indeks utama Wall Street: Dow Jones Industrial Average merosot 1,3 persen, Nasdaq Composite turun 1 persen, dan S&P 500 terkoreksi 0,9 persen. Di sektor teknologi, emiten besar seperti Nvidia dan SpaceX turut tertekan lantaran ketergantungan modal utang yang tinggi untuk membiayai ekspansi pusat data kecerdasan buatan (AI).
BEI Berencana Hapus Batasan Harga Minimum Rp 50 per Saham untuk Tingkatkan Likuiditas dan Price Discovery

Sentimen perdagangan pekan ini juga diwarnai volatilitas ekstrem di sektor bioteknologi. Sehari sebelumnya, Rabu, 19 Agustus 2026, saham Moderna melesat 177 persen berkat hasil positif uji terapi kanker. Morgan Stanley menyebut fenomena lonjakan tajam ini sebagai 'MRNA squeeze', yang memicu kerugian besar bagi para short seller. Berdasarkan data Goldman Sachs, peristiwa tersebut memicu hari terburuk dalam lebih dari dua tahun bagi manajer investasi strategi systematic long-short dengan kerugian harian rata-rata 1,4 persen, kendati mereka masih membukukan keuntungan 1,7 persen secara bulanan.
Faktor makroekonomi dan tekanan energi turut menjadi beban tersendiri bagi konsumen domestik AS. CEO Lowe's, Marvin Ellison, mengungkapkan kelompok konsumen kelas menengah kini kian berhati-hati dalam membelanjakan uang. Riset Climate Solutions Lab Brown University memperkirakan warga AS mengeluarkan biaya tambahan hingga US$88 miliar untuk bahan bakar bensin dan solar sepanjang 2026 akibat disrupsi energi terkait Perang Iran. Pada hari yang sama, harga minyak mentah jenis Brent kembali naik 2,4 persen menjadi US$93,78 per barel.
Rupiah Menguat ke Rp17.685 per Dolar AS, Capai Level Terkuat Sejak Mei 2026

Meskipun ketidakpastian pasar masih membayangi, arah ekonomi secara umum masih menyisakan sinyal yang bervariasi. Data Bank of America Institute menunjukkan pengeluaran diskresioner segmen berpendapatan menengah ke bawah sempat menguat pada Juli, sementara belanja kelompok 5 persen teratas sedikit melambat. Di tengah gejolak pasar surat utang dan saham, Kepala Ekonom Wilmington Trust Luke Tilley menilai perekonomian AS saat ini masih relatif seimbang: cukup berdaya untuk terhindar dari resesi, tetapi belum terlalu panas hingga memicu lonjakan inflasi baru.






