Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu (5/9) sore sekitar pukul 17.00 WIB hingga malam hari. Fenomena ini meluas ke berbagai daerah yang dipicu oleh perubahan arah angin, membawa material vulkanik halus menjangkau permukiman warga dan jalur transportasi darat.
Berdasarkan pantauan dan laporan di lapangan, paparan abu vulkanik melanda Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat. Di Kabupaten Lampung Selatan, sebaran abu halus berwarna kehitaman terlihat menempel di lantai teras hingga masuk ke dalam rumah. Kondisi tersebut merata di berbagai kecamatan, seperti Sidomulyo, Kalianda, Penengahan, Rajabasa, Palas, Way Panji, Candipuro, Katibung, Way Sulan, dan Tanjung Bintang.
Keluhan Warga dan Gangguan Lalu Lintas
Sebaran abu vulkanik memicu keluhan kesehatan dari masyarakat, mulai dari mata perih, rasa tidak nyaman di tenggorokan, hingga gangguan pernapasan. Sebagian warga di Lampung Selatan juga mencium aroma belerang yang cukup menyengat terbawa udara.
209 Penerbangan di Soetta Terdampak Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Di Kota Bandar Lampung, abu vulkanik dilaporkan menempel tebal pada kendaraan roda empat hingga menutupi kaca depan mobil. Kondisi di jalan raya turut mengganggu jarak pandang para pengguna jalan. Sejumlah pengendara sepeda motor terpaksa menepi demi membersihkan mata yang terkena partikel abu serta menghindari risiko kecelakaan akibat permukaan aspal yang licin.
Imbauan BPBD dan Langkah Antisipasi
Merespons situasi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung bersama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta mengenakan masker dan kacamata pelindung jika harus beraktivitas di luar ruangan demi menghindari iritasi serta gangguan pernapasan.
Pihak berwenang juga meminta masyarakat menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi rumah apabila abu mulai masuk. Sumber air bersih serta tempat penyimpanan makanan perlu ditutup rapat agar tidak terkontaminasi material vulkanik. Bagi para pengendara, aparat mengimbau agar selalu menjaga kecepatan dan jarak aman saat melintas di jalur yang terdampak abu.
Anak Krakatau Erupsi Lagi dengan Durasi 30 Detik, Jauhi Radius 3 Km

Aktivitas Vulkanik dan Dampak Penerbangan
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat aktivitas erupsi susulan dari Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9) pukul 03.53 WIB. Letusan tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi sekitar 30 detik. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Selain berdampak pada aktivitas warga di darat, erupsi Gunung Anak Krakatau juga berimbas pada sektor transportasi udara. Sedikitnya 33 jadwal penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) mengalami dampak operasional hingga Sabtu (5/9) pukul 22.00 WIB.






