Aktivitas vulkanik di Selat Sunda kembali meningkat. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu, 6 September 2026, dini hari sekitar pukul 03.53 WIB.
Berdasarkan rekaman seismograf dari pos pengamatan, letusan tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 46 mm dengan durasi gempa letusan sekitar 30 detik. Hingga laporan Magma ESDM disusun sesaat setelah kejadian, tinggi kolom abu vulkanik tidak dapat teramati secara visual secara langsung dari pos, sementara aktivitas erupsi dilaporkan masih terus berlangsung.
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi keselamatan bagi seluruh pihak di sekitar kawasan. Masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki diimbau keras untuk tidak mendekat atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau guna mengantisipasi bahaya lontaran material pijar maupun gas berbahaya.
Temuan Keracunan MBG Diproses Hukum, Legislator Dorong Investigasi Tiap Kejadian

Sebaran Abu Vulkanik Terdeteksi di Dua Klaster
Di saat yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau pergerakan abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan analisis gabungan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, serta citra satelit RGB Himawari-9 per pukul 04.00 WIB, teridentifikasi adanya dua klaster sebaran abu.
Klaster pertama berada dari lapisan permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki. Sebaran abu pada klaster ini bergerak ke arah timur laut hingga selatan, melingkupi sebagian wilayah udara DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta kawasan perairan di sekitarnya.
209 Penerbangan di Soetta Terdampak Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Sementara itu, klaster kedua membubung jauh lebih tinggi, yakni dari permukaan hingga mencapai ketinggian 50.000 kaki. Abu vulkanik pada klaster ini teramati bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, wilayah Selat Sunda bagian selatan, hingga membentang di atas Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.






