Gelombang ujaran kebencian serta penyebaran misinformasi yang terus meningkat di Kuala Lumpur dan berbagai wilayah Malaysia lainnya telah berdampak langsung pada terputusnya akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi Rohingya. Sentimen negatif yang menyasar komunitas rentan tersebut memicu ketakutan mendalam akan keselamatan fisik mereka sehari-hari. Akibat kekhawatiran menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan di ruang publik, sedikitnya sembilan sekolah yang selama ini memfasilitasi kegiatan belajar anak-anak pengungsi terpaksa mengambil langkah drastis dengan menghentikan seluruh operasionalnya. Kondisi ini membuat banyak siswa kehilangan hak dasar mereka untuk belajar dan terpaksa berdiam diri di tempat tinggal masing-masing.








