Permata Institute for Economic Research (PIER) melaporkan bahwa aliran dana dari luar negeri ke pasar keuangan domestik tetap berada di zona positif meskipun dinamika ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian. Berdasarkan catatan lembaga tersebut, akumulasi arus modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar 5,9 miliar dolar AS. Nilai ini merupakan akumulasi aliran masuk yang terhitung sejak awal Januari hingga pekan pertama Agustus 2026.
Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi pilihan utama bagi para pemodal luar negeri dengan membukukan aliran masuk sebesar 9,4 miliar dolar AS. Selain itu, instrumen obligasi juga menyumbang masuknya dana sekitar 610 juta dolar AS. Sebaliknya, pasar ekuitas domestik justru mengalami tekanan. Selama periode yang sama, pasar saham Indonesia mencatatkan arus modal keluar sebesar 4,12 miliar dolar AS.
Dampak Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Perekonomian dan Nilai Tukar Rupiah

Dinamika ini turut memengaruhi peta kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN). Total kepemilikan SBN secara keseluruhan bertambah sebesar Rp414 triliun, sehingga posisi totalnya kini menyentuh Rp6.983 triliun. Terjadi pergeseran kepemilikan di mana porsi perbankan pada instrumen SBN menyusut sekitar Rp257 triliun. Namun, penurunan tersebut diimbangi oleh peningkatan kepemilikan dari sektor lain. Investor asing tercatat menambah kepemilikan SBN sekitar Rp18 triliun, kepemilikan Bank Indonesia bertambah Rp98 triliun, serta sektor asuransi dan dana pensiun meningkat sekitar Rp143 triliun. Di samping itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 121 basis poin ke level 7,28 persen hingga penutupan hari Jumat pekan lalu.
Langkah stabilisasi moneter yang diambil oleh Bank Indonesia juga menjadi faktor penting dalam menjaga pergerakan pasar. Penempatan likuiditas perbankan pada instrumen Bank Indonesia, khususnya SRBI, meningkat sebesar Rp368 triliun hingga awal Agustus. Sebelumnya, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas menilai Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026. Setelah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin, nilai tukar rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini membaik dibandingkan dengan awal tahun pada Januari 2026, ketika Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan adanya tekanan global dan domestik yang memicu pelemahan rupiah dan menyebabkan modal asing keluar sebesar Rp25,1 triliun. Sebagai perbandingan, arus modal asing ke instrumen SRBI dan SBN sempat mencapai Rp19,02 triliun pada 10-11 Juni 2026.
Pemuda Katolik Gelar Turnamen Bulutangkis Peringati HUT Ke-81 RI

Di sisi lain, minat masyarakat domestik terhadap pasar modal nasional terus memperlihatkan pertumbuhan yang kuat. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia tetap bergairah dengan penghimpunan dana mencapai Rp125 triliun dan memiliki total 28 juta investor. Secara spesifik, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor saham telah menyentuh angka 10,05 juta SID per 7 Agustus 2026. Jumlah total investor di pasar modal pun melonjak 48,78 persen secara year-to-date menjadi 30,27 juta SID. Untuk memperluas akses pengelolaan keuangan, PT Bank CIMB Niaga Tbk dan Ajaib Group kini menjalin kolaborasi strategis. Selain itu, kehadiran produk inovatif seperti tokenized ETF mempermudah akses investasi pada indeks saham Amerika Serikat seperti S&P 500 dan Nasdaq menggunakan teknologi blockchain dengan modal awal mulai dari Rp11.000.






