Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan memicu perpindahan asap lintas batas (transboundary haze) ke beberapa wilayah di Asia Tenggara. Hembusan angin membawa partikel asap tebal dari titik-titik kebakaran di Indonesia, memicu penurunan kualitas udara dan memicu respons siaga dari negara-negara tetangga.
Berdasarkan pantauan satelit ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), lonjakan titik panas terjadi secara signifikan di kawasan Borneo, dengan konsentrasi terbesar berada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Data ASMC mendeteksi 514 titik panas pada Kamis, melonjak menjadi 1.734 titik pada Jumat, dan bertahan di angka 1.180 titik pada Sabtu. Kondisi ini secara langsung berdampak pada kualitas udara di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Filipina.
Berikut rincian situasi dan dampak kabut asap di empat negara ASEAN tersebut:
Malaysia: Lonjakan Kasus Kesehatan dan Status Berbahaya di Sarawak
Wilayah Malaysia, khususnya negara bagian Sarawak di Pulau Kalimantan, mengalami dampak yang cukup parah. Sedikitnya enam distrik di Sarawak mencatatkan skor Indeks Pencemaran Udara (Air Pollutant Index/API) pada kategori berbahaya (hazardous). Ibu kota Sarawak, Kuching, mencatat angka API mencapai 407.
Sopir Gus Alex Akui Dititipi 406 Ribu Dolar AS dari Asrul Azis

Sesuai pedoman nasional Malaysia, angka API di atas 300 tergolong berbahaya, sementara angka di atas 500 dapat menjadi dasar pertimbangan penetapan status darurat lokal. Akibat pekatnya kabut asap, aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah di Kuching sempat diliburkan sekitar dua pekan guna meminimalkan paparan pada anak-anak. Di samping itu, Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan adanya kenaikan kasus penyakit asma dan konjungtivitis secara nasional akibat penurunan kualitas udara.
Brunei Darussalam: Kualitas Udara Tidak Sehat di Tiga Distrik
Brunei Darussalam turut merasakan imbas pergerakan asap dari wilayah Indonesia. Angin yang bertiup dari arah barat daya membawa asap dari titik-titik panas di Kalimantan menuju daratan Brunei, menyebabkan penurunan visibilitas dan mutu udara.
Tiga distrik utama mencatatkan skor Indeks Standar Pencemar (Pollutant Standards Index/PSI) dalam rentang tidak sehat, yaitu Distrik Belait dengan PSI 172, Tutong dengan PSI 159, dan Temburong dengan PSI 142. Menghadapi situasi ini, Departemen Lingkungan, Taman dan Rekreasi Brunei (JASTRe) memperketat pengawasan udara dan merilis laporan berkala lima kali sehari, yaitu pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 14.00, dan 16.00 waktu setempat.
Singapura: Pemantauan Rutin dan Penyesuaian Ibadah
Meteorological Service Singapore memantau pergerakan asap tebal yang berasal dari wilayah Sumatra bagian selatan dan tengah, serta sebagian wilayah Kalimantan sejak sekitar 21 Agustus. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) menetapkan mekanisme penerbitan anjuran harian (haze advisory) jika nilai PSI 24 jam memasuki kategori tidak sehat pada rentang 101–200.
Menhut Tegaskan Penanaman Sawit di Lahan Bekas Karhutla Ilegal

Dampak perubahan kondisi udara dan cuaca panas juga memicu langkah antisipasi di bidang sosial-keagamaan. Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) mengumumkan pemendekan durasi khutbah salat Jumat mulai 21 Agustus 2026 guna menjaga kenyamanan dan kesehatan jemaah di tengah peningkatan suhu dan keberadaan kabut asap di sejumlah titik negara tersebut.
Filipina: Partikel Asap Terbawa Monsun Barat Daya
Di Filipina, kabut asap terdeteksi bergerak hingga ke wilayah kepulauan akibat dorongan angin monsun barat daya. Badan Meteorologi Filipina (PAGASA) menjelaskan bahwa partikel dari karhutla di Kalimantan terangkat dan terbawa aliran angin menuju kawasan Filipina.
Office of Civil Defense (OCD) bersama Environmental Management Bureau dari Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR-EMB) memfokuskan pemantauan kualitas udara di tiga wilayah administratif, yakni National Capital Region (NCR), Calabarzon (Region 4A), dan Mimaropa (Region 4B). Asisten Sekretaris OCD Bernardo Rafaelito Alejandro IV mengonfirmasi bahwa kabut yang terpantau di kawasan tersebut terindikasi kuat berhubungan dengan kabut asap lintas batas yang berasal dari titik kebakaran hutan di Indonesia.






