Upaya menyisir perairan terbuka dan gugusan pulau terpencil di sebelah barat Pulau Polasi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, kini memasuki babak baru. Setelah mengerahkan segenap sumber daya selama sepuluh hari berturut-turut, Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) memutuskan untuk menutup sementara operasi pencarian terhadap 14 penumpang KM Nurul Salsa yang belum ditemukan. Musibah tenggelamnya kapal tersebut diketahui terjadi sejak Rabu, 15 Juli 2026, dan hingga kini memicu operasi penyelamatan berskala besar di wilayah Sulawesi Selatan.
Keputusan penutupan sementara ini disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, di Kantor Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Makassar pada Jumat, 24 Juli 2026. Merujuk pada aturan standar operasional prosedur yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor 5 Kabasarnas, masa pencarian korban bencana pada umumnya dibatasi hingga tujuh hari. Namun, tim penyisir sempat memperpanjang masa operasi selama tiga hari tambahan setelah melakukan evaluasi menyeluruh atas perkembangan situasi di lapangan.
Perpanjangan masa pencarian tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Pada hari ketujuh operasi, tim SAR Gabungan berhasil menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia di sekitar perairan Pulau Sanana dan Pulau Sabalana. Temuan ini mengubah fokus pencarian ke area gugusan pulau kecil yang tersebar di wilayah tersebut. Berdasarkan kalkulasi di lapangan bersama On Scene Commander (OSC), terdapat sekitar 20 pulau kecil tidak berpenghuni di kawasan tersebut, termasuk Pulau Mattalang yang menjadi lokasi ditemukannya korban terakhir. Petugas sempat menaruh harapan besar bahwa penumpang yang masih hilang mungkin berhasil menyelamatkan diri dan terdampar di pulau-pulau sunyi tersebut.
Ujian Perdana Kamboja Melawan Dominasi Singapura di Piala AFF 2026

Proses pencarian 14 korban hilang ini diwarnai oleh dinamika perjuangan para penumpang saat kapal tenggelam. Berdasarkan keterangan dari korban selamat, sebanyak 19 penumpang mulanya berkumpul dalam satu rakit besar. Namun, kondisi darurat memaksa mereka memisahkan diri ke dalam empat rakit kecil yang masing-masing berisi empat, lima, hingga enam orang. Perpisahan ini membuat keberadaan para korban menjadi tersebar. Kelompok pertama yang berisi lima orang berhasil diselamatkan seluruhnya. Sementara pada rakit kedua yang berisi lima orang, hanya dua penumpang yang selamat sedangkan tiga lainnya dinyatakan hilang. Adapun penumpang pada rakit ketiga dan keempat terpisah sepenuhnya dari kelompok lain.
Dalam hal pendataan, verifikasi intensif terus dilakukan oleh tim kepolisian di Pos SAR Benteng bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Selayar. Dari data awal yang mencatat 78 orang penumpang, penyesuaian data yang valid hingga hari ke-10 menetapkan jumlah total korban menjadi 76 orang. Hingga penutupan sementara dilakukan, sebanyak 58 penumpang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak empat orang, dengan rincian satu orang meninggal saat evakuasi korban selamat dan tiga orang ditemukan selanjutnya.
Narasi Palsu Seputar Riset Vaksin Hantavirus dan Jejak Sejarahnya Sejak Era Perang Korea

Meskipun operasi penyisiran harian kini dihentikan secara resmi, Basarnas tidak sepenuhnya menutup pintu pergerakan. Koordinasi ketat tetap dijaga dengan himpunan nelayan di Kabupaten Pangkep serta masyarakat pesisir di sekitar Kepulauan Selayar. Apabila di kemudian hari terdapat laporan atau temuan baru terkait keberadaan 14 korban yang masih hilang, operasi SAR akan segera dibuka kembali secara khusus. Langkah ini difokuskan untuk tindakan evakuasi fisik korban yang kemudian akan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel untuk proses identifikasi resmi.






