Bank Indonesia mencermati pergerakan harga komoditas pangan seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat yang kembali memicu inflasi pada Agustus 2026. Kenaikan tekanan harga pada komponen pangan menjadi fokus perhatian bank sentral di tengah tren pemulihan daya beli.
Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa kembalinya inflasi pada Agustus 2026 mencerminkan peningkatan roda perekonomian. Kondisi tersebut terlihat dari indikator inflasi inti yang tetap stabil dan mengalami kenaikan tipis dari 2,7 persen menjadi 2,9 persen. Di sisi lain, komponen harga pangan bergejolak (volatile food) mencatat lonjakan yang cukup signifikan dari kisaran 2 persen menjadi 4 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatatkan inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,19 persen pada Agustus 2026, dengan laju inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,21 persen.
Data Kimiskinan Beda dengan Bank Dunia, Begini Penjelasan BPS

Komoditas Pangan Pemicu Utama Inflasi
Tekanan inflasi bulanan pada Agustus 2026 sebagian besar bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan inflasi 0,57 persen dengan andil 0,17 persen terhadap inflasi umum. Daging ayam ras menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi pada kelompok tersebut dengan andil 0,17 persen. Komoditas lain seperti cabai rawit, ikan segar, serta beras juga turut memberikan andil masing-masing sebesar 0,02 persen.
Secara keseluruhan, komponen harga bergejolak mencatatkan inflasi bulanan 0,88 persen dengan andil 0,15 persen, yang didorong oleh daging, ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Pendorong inflasi kedua terbesar datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat inflasi 0,37 persen dengan andil 0,03 persen, ditopang oleh kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,75 persen dengan andil 0,02 persen.
161 Ribu Penggilingan Terancam, Amran Bongkar Alasan Harga Beras Naik

Penahan Inflasi dan Langkah Koordinasi
Laju inflasi umum tertahan oleh penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran lain. Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,50 persen dengan andil -0,06 persen, terutama dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara (andil -0,06 persen) serta bensin (andil -0,03 persen). Selain itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan deflasi 0,33 persen dengan andil -0,07 persen.
Menyikapi lonjakan pada harga pangan bergejolak, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui pelaksanaan program pengendalian inflasi pangan guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat ke depan.






