JAKARTA — Keresahan sempat melanda warga di kawasan pesisir Banten dan Lampung menyusul beredarnya kabar tidak terverifikasi mengenai potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Menanggapi situasi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat di wilayah pantai untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu kebencanaan yang belum teruji kebenarannya.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menegaskan pentingnya menyaring setiap informasi yang beredar di tengah masyarakat, khususnya menyangkut isu bahwa erupsi gunung api akan memicu gelombang tsunami. Ia mengimbau warga pesisir untuk selalu berpegang pada arahan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi pemerintah terkait.
Kekhawatiran publik tersebut diperkeruh oleh kemunculan video seorang pria asal Kanada, Frankie MacDonald, yang membuat ramalan bahwa Indonesia akan diguncang gempa dahsyat dengan kekuatan Magnitudo 7 hingga 9. Meski kerap membicarakan prakiraan cuaca dan bencana di internet, Frankie sebenarnya tidak memiliki latar belakang keilmuan formal di bidang meteorologi ataupun kebencanaan.
Guru SMA di Jombang Dipolisikan Usai Diduga Perkosa Siswinya 13 Kali

Menanggapi spekulasi yang berkembang luas, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wijayanto menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun teknologi di dunia yang sanggup memprediksi terjadinya gempa bumi secara presisi, baik dari segi waktu maupun lokasi.
Wijayanto menjelaskan, kondisi geografis Indonesia memang menjadikannya kawasan rawan aktivitas seismik yang bersumber dari zona megathrust dan sesar aktif. Berdasarkan catatan BMKG hingga Agustus 2026, Indonesia telah mengalami dua kali gempa berkekuatan di atas Magnitudo 7, masing-masing di kawasan Flores dan Maluku Utara.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Mereda, Sekolah di Jakarta Kembali Normal Mulai Rabu 9 September 2026

Ketimbang memercayai ramalan yang tidak berdasar secara ilmiah, BMKG mendorong warga untuk memusatkan perhatian pada langkah mitigasi konkret. Kesiapsiagaan dapat dibangun melalui pemahaman langkah evakuasi mandiri, penguatan struktur bangunan tempat tinggal, hingga pengenalan jalur dan rambu evakuasi di lingkungan masing-masing.






