Teluk Tomini yang biasanya menyajikan keindahan kini menjadi panggung kecemasan. Upaya pencarian terhadap sebuah kapal cepat (speedboat) yang membawa belasan penumpang terpaksa membentur dinding alam. Gelombang tinggi dan cuaca buruk di perairan Gorontalo memaksa tim penyelamat untuk mundur sejenak, menunda misi kemanusiaan demi keselamatan mereka sendiri sebelum fajar menyingsing.
Keputusan sulit ini terpaksa diambil oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Gorontalo pada Jumat malam. Alam tampaknya sedang tidak bersahabat ketika kegelapan mulai menyelimuti lautan lepas. Dengan tinggi gelombang yang berkisar antara 1,5 hingga 2,5 meter, menerjang perairan pada malam hari dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan personel. Kepala Basarnas Gorontalo, Heriyanto, mengonfirmasi bahwa operasi penyisiran terpaksa ditangguhkan untuk sementara waktu dan baru akan dilanjutkan kembali pada keesokan paginya dengan harapan cuaca akan membaik.
Di dalam kapal cepat yang kini hilang kontak tersebut, terdapat 13 jiwa yang nasibnya belum diketahui secara pasti. Rombongan ini terdiri dari 11 wisatawan asing yang tengah menikmati perjalanan, didampingi oleh seorang nakhoda serta satu orang anak buah kapal (ABK). Perjalanan yang semula direncanakan sebagai pelayaran menyenangkan dari Kabupaten Tojo Una-una menuju Pelabuhan Marisa di Kabupaten Pohuwato berubah menjadi situasi darurat yang menegangkan.
MUI Tegaskan Penolakan Terhadap LGBTQ dalam Kongres Umat Islam Indonesia

Berdasarkan jadwal perjalanan, kapal tersebut bertolak dari Tojo Una-una pada Jumat pagi sekitar pukul 07.00 WITA. Dengan estimasi waktu tempuh sekitar empat jam, kapal seharusnya sudah bersandar dengan aman di Pelabuhan Marisa pada pukul 11.00 WITA. Namun, dermaga tujuan tetap sepi hingga waktu yang ditentukan lewat jauh. Laporan mengenai hilangnya kontak dengan kapal cepat ini baru diterima oleh pihak berwenang pada sore harinya, tepatnya pukul 15.40 WITA.
Berdasarkan perhitungan teknis, petugas memperkirakan kapal cepat tersebut telah menempuh jarak sekitar 20 mil laut dari titik keberangkatan di Tojo Una-una sebelum akhirnya kehilangan komunikasi sepenuhnya. Jarak tersebut merupakan setengah dari total rute pelayaran yang mencapai sekitar 40 mil laut untuk bisa sampai ke Pelabuhan Marisa. Menghadapi situasi kritis ini, Basarnas Gorontalo langsung bergerak cepat menjalin komunikasi intensif dengan Basarnas Palu, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Gorontalo, serta berbagai stasiun radio pantai guna memantau setiap sinyal darurat sekecil apa pun.
Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Kini, malam yang dingin di Teluk Tomini menyisakan ketidakpastian bagi keluarga penumpang dan tim penyelamat yang bersiaga di darat. Di tengah gulita dan deburan ombak yang belum bersahabat, koordinasi terus dimatangkan agar ketika fajar menyingsing, operasi pencarian dapat langsung bergerak cepat menyisir titik koordinat perkiraan demi membawa pulang 13 orang tersebut dengan selamat.






