Polandia, negara dengan kekuatan militer terbesar ketiga di NATO yang mengalokasikan sekitar 4,3 persen produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan, kini berada di pusaran perdebatan baru terkait penempatan senjata nuklir Amerika Serikat. Ketegangan internal di Warsawa kembali mencuatkan diskursus pertahanan kawasan di tengah eskalasi geopolitik di perbatasan timur Eropa.
Perdebatan mencuat setelah perbedaan sikap terbuka di jajaran pengambil kebijakan Polandia. Wakil Menteri Pertahanan Polandia Pawel Zalewski menyatakan bahwa Warsawa tidak memiliki rencana untuk menampung hulu ledak nuklir AS di tanahnya. Pernyataan tersebut disampaikan Zalewski usai menggelar pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan Elbridge Colby.
Sikap tersebut langsung menuai kritik dari Kantor Kepresidenan Polandia. Kepala Biro Kebijakan Internasional untuk Presiden Karol Nawrocki, Marcin Przydacz, menilai pandangan kementerian pertahanan tersebut tidak masuk akal serta bertentangan dengan kepentingan strategis pertahanan negara. Przydacz menegaskan bahwa Warsawa seharusnya membuka ruang bagi penempatan hulu ledak tersebut.
Skandal Kecurangan Besar CPNS Terungkap, Negara Pecat 3.868 ASN

Saat ini, hanya sembilan negara di dunia yang tercatat memiliki program senjata nuklir mandiri, termasuk anggota NATO seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Di luar kepemilikan langsung tersebut, skema pembagian nuklir (nuclear sharing) yang dirancang sejak era Perang Dingin telah menempatkan bom gravitasi B61 milik AS di lima negara sekutu: Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki.
Dorongan perluasan payung nuklir ke sayap timur dipicu oleh dinamika perang Rusia-Ukraina yang kerap berdampak langsung ke wilayah Polandia, termasuk insiden masuknya sejumlah drone dan rudal militer Rusia. Selain itu, wilayah Polandia berada dalam radius jangkauan sistem rudal Iskander Rusia yang disiagakan di Kaliningrad serta Belarus.
Potret Keluarga Suriah Mencari Nafkah dari Garam Gurun Palmyra

Peneliti Institut Urusan Internasional Polandia Artur Kacprzyk menilai bahwa keikutsertaan Polandia dalam skema nuclear sharing akan mengirimkan sinyal pencegahan yang tegas ke Moskow bahwa aliansi siap merespons potensi serangan terhadap sayap timur.
Di sisi lain, Wakil Kepala Penelitian Institut Urusan Internasional Polandia Lukasz Kulesa mengingatkan bahwa langkah penempatan fisik berisiko dijadikan dalih oleh Rusia sebagai bukti agresi NATO. Sebagai jalan tengah yang minim risiko, sertifikasi jet tempur F-35 dan kesiapan pilot Polandia untuk misi nuklir dinilai dapat menjadi opsi taktis tanpa harus menempatkan hulu ledak secara permanen di dalam negeri.






