Upaya keras pemerintah Vietnam dalam menertibkan ekspor dan menjaga reputasi di mata dunia internasional baru saja membuahkan hasil besar. Berawal dari informasi intelijen yang disuplai oleh US Homeland Security, otoritas pengawas pasar di bawah Kementerian Perdagangan Vietnam menggerebek sebuah fasilitas produksi di Ho Chi Minh City. Dalam operasi senyap tersebut, petugas mendapati hampir 50.000 pasang sepatu yang diyakini sebagai produk tiruan. Barang-barang ini tidak main-main, semuanya mengusung label merek olahraga raksasa dunia, meliputi Nike, Nike Air, hingga Air Jordan. Jika diakumulasikan, nilai pasar dari puluhan ribu pasang alas kaki ilegal ini ditaksir menembus angka 100 miliar dong, atau setara dengan 3,8 juta dolar Amerika Serikat yang jika dirupiahkan mencapai sekitar Rp 68,24 miliar.
Langkah tegas yang diambil oleh Hanoi ini rupanya tidak lepas dari dinamika politik dan ekonomi global yang sedang menghangat. Saat ini, Vietnam tengah berada di bawah sorotan tajam sekaligus tekanan dari Amerika Serikat akibat surplus perdagangan mereka yang terus membengkak. Perpindahan masif basis produksi berbagai perusahaan multinasional dari China ke Vietnam membuat arus barang dari negara Asia Tenggara ini ke pasar Amerika Serikat meningkat drastis. Oleh karena itu, penggerebekan pabrik sepatu ini menjadi semacam panggung pembuktian bagi pemerintah Vietnam. Mereka ingin menunjukkan komitmen nyata dalam memberantas peredaran barang palsu, memperketat pengawasan bea cukai, serta melindungi hak kekayaan intelektual demi memuluskan negosiasi dagang dan menghindari ancaman tarif impor yang lebih mencekik dari pihak Washington.
Investor Domestik Topang IHSG di Tengah Aksi Jual Asing

Fasilitas produksi yang menjadi target operasi aparat penegak hukum tersebut diketahui berada di bawah pengelolaan MP Company. Saat berhadapan dengan tim penyidik, pihak manajemen perusahaan bersikeras bahwa operasi mereka sah secara hukum. Mereka berusaha membela diri dengan menyodorkan tumpukan dokumen yang diklaim sebagai bukti legalitas aktivitas ekspor. Berkas-berkas tersebut mencakup kontrak produksi, dokumen pengiriman ekspor, hingga sejumlah korespondensi melalui surat elektronik. Dalam surel tersebut, MP Company berdalih bahwa mereka telah mendapatkan lampu hijau dan izin resmi dari pihak mitra untuk memproduksi serta menggunakan merek dagang Nike pada barang-barang buatan mereka.
Namun, alibi yang dibangun oleh MP Company langsung runtuh ketika otoritas setempat melakukan konfirmasi silang dengan pemilik merek yang sah. Berdasarkan keterangan resmi yang dikumpulkan oleh penyelidik Vietnam, Nike Inc. secara tegas membantah seluruh klaim perusahaan tersebut. Raksasa pakaian olahraga itu menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak pernah menerbitkan lisensi, menjalin kesepakatan bisnis, apalagi memberikan wewenang kepada MP Company maupun individu yang terafiliasi dengan mereka untuk bertindak mengatasnamakan Nike. Fakta yang lebih mengejutkan terungkap dari catatan pengawas pasar, di mana sepanjang tahun ini saja pabrik bodong tersebut telah berhasil meloloskan 11 kontainer berisi sepatu berlogo Nike dan Air Jordan ke Amerika Serikat dengan nilai deklarasi sebesar 25,5 miliar dong atau sekitar Rp 17,38 miliar.
Pemerintah Pastikan TNI dan Polri Tidak Memiliki Wewenang Menagih Pajak

Kini, aparat penegak hukum Vietnam tidak ingin berhenti hanya pada penyitaan di tingkat pabrik. Penyelidikan terus diperluas untuk membongkar akar jaringan sindikat pemalsuan ini, termasuk menelusuri dari mana asal-usul pasokan bahan baku yang digunakan oleh MP Company. Otoritas meyakini bahwa kasus ini bukanlah kejahatan tunggal, melainkan melibatkan jaringan organisasi dan korporasi terstruktur yang wilayah operasinya membentang melintasi Amerika Serikat, China, dan Vietnam. Skandal pemalsuan berskala raksasa ini pun mencuat tepat pada fase krusial, di mana perundingan dagang bilateral antara Vietnam dan Amerika Serikat masih terjebak dalam kebuntuan terkait isu akses pasar, praktik pengiriman barang transit, hingga lonjakan surplus perdagangan.






