Warga di ibu kota Libya, Tripoli, melancarkan aksi pembangkangan sipil berskala besar sebagai bentuk protes keras terhadap krisis energi yang terus memburuk. Pemadaman listrik berkepanjangan yang kini mencapai sepuluh jam setiap hari, ditambah dengan beban tingginya tarif listrik, telah memicu kemarahan luas di tengah masyarakat. Sebagai bentuk penolakan, massa turun ke jalan untuk memblokade sejumlah jalur lalu lintas utama, serta menutup berbagai fasilitas publik dan kantor-kantor pemerintahan. Kondisi ini memperlihatkan eskalasi ketidakpuasan warga terhadap pelayanan publik yang dinilai terus mengalami kemunduran.
Aksi demonstrasi besar-besaran ini dipelopori oleh sebuah kelompok yang menamakan diri Gerakan Souq Al-Jumaa. Berdasarkan pernyataan resmi yang dikeluarkan kelompok tersebut pada hari Minggu, tujuan utama mereka bukan sekadar mengganggu rutinitas harian warga, melainkan sebuah upaya terencana untuk melumpuhkan pemerintah sepenuhnya. Gerakan ini secara tegas menuntut adanya pertanggungjawaban atas berbagai dugaan praktik korupsi. Lebih jauh lagi, mereka mendesak pembubaran seluruh institusi politik utama di Libya, yang mencakup pemerintah yang berkuasa, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Negara, hingga Dewan Kepresidenan.








