Ancaman bencana dan situasi krisis yang datang tanpa peringatan mendorong para ahli keselamatan untuk memperingatkan pentingnya kesiapan mandiri di tingkat keluarga. Jika sebelumnya penanganan kedaruratan kerap bertumpu pada respons setelah insiden melanda, kini setiap rumah tangga disarankan untuk secara proaktif menyiapkan satu Tas Siaga Bencana (TSB) yang siap diambil dan dibawa sewaktu-waktu.
Persediaan logistik dan perlengkapan di dalam tas darurat tersebut idealnya dirancang untuk mencukupi kebutuhan hidup mandiri setidaknya selama tiga hari atau 72 jam pertama. Periode 72 jam dinilai sebagai fase paling krusial ketika akses bantuan luar, pasokan kebutuhan pokok, maupun jaringan utilitas publik berpotensi lumpuh total.
11 Orang Utan dan Tenggiling Terdampak Karhutla di Kaltim

Langkah penataan tas darurat yang disiplin dan terpantau secara berkala menjadi kunci dalam meningkatkan kesiapsiagaan mandiri sekaligus meminimalisasi risiko fatalitas saat bencana melanda. Kesiapan ini menjadi pembeda utama dalam menjaga keselamatan jiwa sebelum tim evakuasi dapat menjangkau titik-titik terdampak.
Kepala BGN, 80% Keracunan MBG gegara Pelanggaran SOP!

Urgensi kesiapsiagaan rumah tangga ini berkaca pada tingginya kerentanan saat bencana terjadi, sebagaimana krisis kelumpuhan utilitas di Sri Lanka ketika sekitar sepertiga wilayahnya terputus dari aliran listrik dan air bersih pascaterjangan Siklon Ditwah, maupun insiden cuaca ekstrem badai di Missouri yang dilaporkan NBC News menimbulkan korban jiwa.






