Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan bahwa lebih dari 80 persen kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi akibat pelanggaran prosedur operasional standar (standard operating procedure/SOP).
Hal tersebut disampaikan Sudaryono saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Ia menegaskan bahwa mayoritas insiden gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat bermula dari ketidakpatuhan terhadap pedoman teknis yang telah ditetapkan.
Menurut temuan BGN, pelanggaran yang paling banyak ditemukan berkaitan erat dengan batasan waktu konsumsi hidangan. Sudaryono menyoroti masih banyaknya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum sepenuhnya memahami tata cara penyimpanan pangan yang aman serta memaksakan volume penyajian yang melampaui kapasitas riil dapur.
11 Orang Utan dan Tenggiling Terdampak Karhutla di Kaltim

Dalam beberapa kasus, keterbatasan fasilitas dapur berakibat pada penumpukan pesanan. Pengelola dapur berukuran kecil yang menerima kuota masakan berlebih terpaksa mengolah bahan makanan jauh lebih awal pada pagi hari, mendiamkannya dalam waktu lama, lalu mengulang proses memasak berikutnya.
Sudaryono turut mencontohkan kelalaian penanganan batas waktu kedaluwarsa pada insiden keracunan yang menimpa 500 santri di Sidoarjo. Hasil investigasi sementara di lokasi menunjukkan hidangan daging telah dimasak sejak pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya dan diberi label batas aman konsumsi sebelum pukul 10.00 WIB.
Pemkot Solo Akan Minta Water Bombing Atasi Kebakaran TPA Putri Cempo

Kendati sudah melewati batas waktu aman, makanan tersebut baru dikirim ke sekolah pada pukul 11.40 WIB. Akibat keterlambatan distribusi, para santri baru mengonsumsi makanan tersebut sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.
Menyikapi temuan tersebut, Sudaryono menegaskan bahwa persoalan utama dalam pengelolaan pangan MBG di lapangan bermuara pada aspek kedisiplinan para pelaksana. Penerapan rantai pasok dan ketepatan jadwal penyajian dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah kejadian serupa terulang.






