Berita Viral Terkini

Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak dan Menggoyang Pasar Saham Global

Togar SiregarPublished 25 Jul 2026 - 22.350 Reads
Bagikan WhatsAppX
Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak dan Menggoyang Pasar Saham Global
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mengguncang stabilitas ekonomi global setelah harga minyak mentah dunia melesat melampaui angka US$100 per barel. Lonjakan yang terjadi untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir ini dipicu oleh kekhawatiran baru atas terganggunya jalur pasokan energi vital. Ketegangan meningkat seiring ancaman milisi Houthi Yaman di Laut Merah yang berpotensi menyumbat ekspor minyak Arab Saudi. Di saat yang sama, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai lalu lintas energi di Selat Hormuz juga kian meruncing, menambah kecemasan pasar global.

Krisis terbaru ini memuncak setelah kelompok Houthi yang disokong Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker milik Arab Saudi, yaitu Encelia dan Layla. Serangan yang menyebabkan salah satu kapal terbakar tersebut dilancarkan dengan alasan bahwa awak kapal melanggar blokade laut di Laut Merah. Insiden ini membuka babak baru dalam ketegangan Teluk, menyusul kekhawatiran pasar akan potensi macetnya aliran energi global seperti yang sempat terjadi saat blokade Selat Hormuz oleh Teheran beberapa bulan sebelumnya, yang kala itu sempat mendorong proyeksi harga minyak hingga US$150 per barel.

Also Read

Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Sentimen negatif dari sektor energi ini langsung merembet ke pasar saham global di kedua sisi Atlantik. Indeks Nasdaq di New York, yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan teknologi, merosot lebih dari 2% akibat kecemasan ganda: ketegangan geopolitik dan potensi pecahnya gelembung saham kecerdasan buatan (AI). Saham raksasa otomotif listrik Tesla bahkan anjlok hingga 12% menyusul laporan laba yang berada di bawah ekspektasi pasar. Para investor kini mulai meragukan efisiensi dari besarnya pengeluaran yang dialokasikan perusahaan untuk pengembangan teknologi AI di tengah situasi makroekonomi yang tidak menentu.

Pergerakan harga minyak belakangan ini memang sangat fluktuatif dan sensitif terhadap dinamika politik. Setelah sempat menyentuh puncaknya di angka US$126 per barel pada bulan April, harga minyak sempat melandai hingga ke titik terendah US$71 pada awal Juli seiring adanya harapan gencatan senjata di kawasan tersebut. Namun, kegagalan nota kesepahaman antara AS dan Iran memicu kembali permusuhan di Teluk. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengingatkan bahwa meskipun ada beberapa faktor penyeimbang yang sempat mendinginkan pasar, situasi saat ini tidak memberikan ruang bagi pelaku ekonomi untuk bersikap santai karena ancaman inflasi energi masih nyata.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Dampak dari ketegangan ini juga merembet ke pasar obligasi, di mana investor berbondong-bondong menjual surat utang pemerintah dari negara-negara ekonomi utama seperti AS, Jerman, dan Jepang. Penjualan massal ini mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di seluruh dunia, yang berarti biaya pinjaman negara turut meningkat. Di Inggris, imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak melampaui 5,1% untuk pertama kalinya sejak Mei, diperparah oleh kegelisahan pasar terhadap rencana anggaran perdana menteri baru, Andy Burnham. Para analis memperingatkan bahwa kenaikan biaya pinjaman ini dapat memicu kembali kepanikan pasar global dan menekan daya beli rumah tangga secara luas.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca