Laporan kejahatan siber di sektor keuangan terus meningkat seiring lonjakan adopsi transaksi daring nasional. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) bentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lebih dari 636.000 laporan penipuan sepanjang rentang November 2024 hingga akhir Juli 2026. Dari tindak lanjut laporan tersebut, lebih dari 600.000 rekening bank yang terbukti terhubung dengan aktivitas penipuan telah diblokir demi memutus rantai transaksi ilegal.
Lonjakan kasus ini berlangsung di tengah masifnya penggunaan instrumen pembayaran elektronik di Indonesia. Bank Indonesia mencatat volume transaksi digital mencapai 5,50 miliar transaksi per Juli 2026, atau melonjak 28,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara tahunan (yoy). Transaksi menggunakan QRIS mencatatkan akselerasi tertinggi, yakni tumbuh 82,42 persen.
Di tingkat inklusi, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2025 menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional menyentuh 80,51 persen, dengan tingkat literasi finansial Generasi Z sebesar 73,26 persen. Namun, tingginya akses perlu diimbangi kewaspadaan, terlebih data Investpcro dalam laporan The State of Impulse Buying-Statistics & Trends 2025 mencatat 84 persen konsumen pernah melakukan transaksi impulsif yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan rekayasa sosial.
15 Tips agar Rambut tidak Rontok dan Tetap Sehat Alami

Batasan Interaksi Resmi Penyedia Layanan
Menyikapi celah keamanan yang kerap menyasar sisi pengguna, penyedia dompet digital OVO menegaskan batasan operasional yang tidak pernah dilakukan perusahaan kepada nasabah. Upaya ini penting untuk membantu masyarakat membedakan kanal resmi dari modus penipuan.
OVO menegaskan tidak pernah meminta pengguna untuk menyebutkan, mengirimkan, ataupun membagikan nomor Personal Identification Number (PIN) dengan dalih apa pun, termasuk dalam proses penanganan kendala atau layanan pelanggan. Selain itu, platform menyatakan tidak ada prosedur verifikasi data, aktivasi fitur, maupun pencairan hadiah yang mewajibkan pengguna mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu.
Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Asep Haekal, menyampaikan bahwa aspek keamanan serta kepercayaan pengguna ditempatkan sebagai fokus utama operasional perusahaan. Skema perlindungan transaksi dijalankan melalui tiga pilar: penguatan autentikasi di sisi pengguna, sistem pendeteksi kecurangan (Fraud Detection System/FDS), dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di balik sistem pemrosesan.
Tren Belanja Produk Premium Tumbuh, Autentisitas Jadi Pertimbangan Konsumen

Upaya pencegahan juga diperkuat melalui program edukasi publik seperti OVOFinTalk, Fintech Academy, dan rangkaian konten literasi berkala. Di sisi pembiayaan ekosistem, integrasi layanan GrabModal by OVO Finansial telah menyalurkan pinjaman senilai Rp6 triliun kepada lebih dari 445.000 mitra UMKM dan pengemudi dalam ekosistem Grab.
Bagi pengguna yang menemui kendala transaksi atau indikasi aktivitas mencurigakan, jalur pengaduan resmi OVO dapat diakses melalui sambungan telepon 1-500-696.






