Sebanyak 40.000 buruh Hyundai Motor di Korea Selatan diperkirakan bergabung dalam aksi mogok kerja penuh pertama dalam satu dekade terakhir pada Jumat, 21 Agustus 2026. Langkah serentak ini diambil setelah negosiasi ketenagakerjaan mengalami kebuntuan terkait upah, batas usia kerja, dan proteksi tenaga kerja dari disrupsi otomatisasi.
Berikut adalah ringkasan tanya jawab seputar aksi mogok kerja dan dinamika yang dihadapi pabrikan otomotif tersebut:
Apa penyebab utama terjadinya mogok kerja buruh Hyundai?
Mogok kerja dipicu oleh mandeknya perundingan upah antara perwakilan buruh dan manajemen. Para pekerja menuntut kepastian proteksi ketenagakerjaan dari ancaman kecerdasan buatan (AI) serta otomatisasi robotik. Hyundai saat ini menaungi produsen robot humanoid Boston Dynamics dan berencana menempatkan armada robot di pabrik Georgia, Amerika Serikat, mulai tahun 2028. Kondisi ini memicu kekhawatiran jangka panjang mengenai pengurangan peran tenaga kerja manusia.
Berapa banyak massa yang turun ke jalan dan apa afiliasinya?
Kabut Asap Lintas Batas Memburuk, 591 Sekolah di Sarawak Ditutup

Selain sekitar 40.000 anggota serikat yang terlibat dalam aksi mogok kerja, unjuk rasa langsung di depan kantor pusat Hyundai Motor di Seoul dihadiri oleh sekitar 1.200 hingga 1.300 orang. Kehadiran pekerja dari afiliasi Kia Corp, kalangan pemasok komponen, serta serikat payung lainnya membuat total massa di lokasi mencapai sekitar 3.000 orang. Gerakan buruh di Korea Selatan sendiri kian aktif setelah terpilihnya Presiden liberal yang pro-buruh, Lee Jae Myung, pada tahun lalu.
Apa saja poin tuntutan yang diajukan serikat pekerja?
Serikat buruh mendesak kenaikan bonus dari sebelumnya 750 persen menjadi 800 persen dari gaji pokok bulanan. Tuntutan lain mencakup izin kenaikan harga bagi pemasok suku cadang serta peningkatan batas usia pensiun dari aturan saat ini di angka 60 tahun. Pemimpin Serikat Pekerja Hyundai, Lee Jong Cheol, mengkritisi pergeseran status pekerja senior yang telah mengabdi 35 hingga 40 tahun ke posisi kontrak.
Berapa kerugian dan dampak produksi yang dialami Hyundai?
Dinamika Rencana Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un beserta Syarat Ketat Korea Utara

Sebelum pemogokan penuh berlangsung, rangkaian aksi mogok parsial sejak akhir Juli telah melumpuhkan produksi 55.200 unit kendaraan. Nilai kerugian dari terhentinya produksi tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 2,3 triliun won atau sekitar Rp 29,41 triliun menurut estimasi Kantor Berita Yonhap. Beban ini memperberat situasi pabrikan yang pada Juli lalu memperkirakan target penjualan global tahun ini berisiko meleset akibat penurunan penjualan domestik dan persaingan ketat produk China di pasar Eropa.
Bagaimana kelanjutan perundingan antara serikat dan manajemen?
Juru Bicara Serikat Pekerja Hyundai Motor, Kim Jin-wook, menegaskan pihaknya membuka ruang untuk negosiasi upah lanjutan, namun siap membahas rencana mogok berikutnya apabila manajemen tidak mengajukan usulan yang berwawasan ke depan. Di sisi lain, manajemen Hyundai Motor menyatakan aksi mogok dapat mengganggu operasional, mitra kerja, dan pelanggan pada momen transisi penting menuju industri mobilitas masa depan.






