Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif menjelang perdagangan pekan ini. Pada sesi perdagangan hari Jumat (7/8) lalu, indeks saham domestik berhasil ditutup menguat sebesar 1,04 persen dan parkir di level 6.409,65. Catatan hijau ini memberikan angin segar bagi para pelaku pasar yang sedang memilah instrumen investasi untuk transaksi hari ini. Walau demikian, pergerakan pasar saham selalu dinamis dan dipenuhi ketidakpastian, sehingga para investor tetap diimbau untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Menilik pergerakan saham secara individu, terdapat perbedaan kinerja yang cukup kontras di antara emiten-emiten besar. Penguatan indeks pada perdagangan hari Jumat tersebut ditopang kuat oleh kenaikan saham BBRI yang melesat sebesar 2,96 persen. Selain itu, saham DCII juga terpantau menguat sebesar 2,77 persen, disusul oleh saham TLKM yang bertambah sebesar 2,26 persen. Sebaliknya, beberapa saham justru mengalami tekanan jual. Saham SMMA tercatat turun sebesar 1,99 persen, disusul MAPI yang melemah cukup signifikan hingga 5,03 persen, dan EMAS yang mengalami koreksi sebesar 1,32 persen.
Aliran dana dari investor luar negeri turut memberikan stimulus positif bagi pasar modal dalam negeri. Investor asing mencatatkan aksi pembelian bersih atau net buy yang cukup besar, yakni mencapai Rp917,23 miliar khusus di pasar reguler. Sementara itu, jika dihitung secara akumulatif di seluruh pasar, nilai net buy yang dibukukan oleh investor asing mencapai angka Rp1,27 triliun. Dominasi sentimen beli ini membuat mayoritas sektor industri berakhir di zona hijau, di mana 10 dari 11 sektor yang ada di bursa berhasil mencatatkan penguatan.
Destry Damayanti Diajukan Sebagai Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia

Bila dilihat dari performa sektoral, sektor infrastruktur menjadi motor penggerak utama dengan penguatan sebesar 2,17 persen pada perdagangan Jumat lalu. Di sisi lain, sektor consumer cyclicals menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi dengan penurunan sebesar 0,69 persen. Perbedaan kinerja sektoral ini mencerminkan adanya pergeseran fokus transaksi para pelaku pasar di tengah fluktuasi ekonomi domestik.
Kondisi pasar saham dalam negeri juga tidak terlepas dari pengaruh pergerakan bursa saham Amerika Serikat yang ditutup bervariasi namun cenderung menguat. Indeks Dow Jones ditutup naik sebesar 0,28 persen ke level 54.036. Langkah positif ini juga diikuti oleh indeks S&P 500 yang menguat sebesar 0,62 persen ke level 7.757, serta indeks Nasdaq yang bertambah sebesar 1,30 persen hingga ditutup pada level 26.690. Kinerja positif bursa Wall Street ini berpotensi memberikan sentimen psikologis yang baik bagi perdagangan di Asia.
Harga Minyak Mentah Menguat ke US$84,32 di Tengah Ketidakpastian Selat Hormuz

Di samping pergerakan harga saham harian, perhatian pelaku pasar kini juga tertuju pada agenda penting dari FTSE Russell. Lembaga pemeringkat indeks global tersebut dijadwalkan akan mengevaluasi status pembekuan atau freeze status Indonesia pada tanggal 10 hingga 14 Agustus 2026. Hasil dari evaluasi atau peninjauan ulang tersebut diperkirakan baru akan diumumkan secara resmi pada tanggal 21 Agustus 2026 dan akan mulai berlaku efektif pada tanggal 18 September 2026. Agenda ini menjadi sentimen krusial yang dapat memengaruhi keputusan investasi jangka menengah para pemodal institusi.






