Deburan ombak Samudera Hindia di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten, menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat setempat. Di balik keindahan alamnya, perairan dalam ini menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan pelagis besar yang kini menjelma sebagai motor penggerak utama kesejahteraan warga pesisir. Mulai dari nelayan tradisional hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), semua merasakan berkah dari melimpahnya komoditas laut ini. Sinergi antara sektor tangkap dan pengolahan telah menciptakan ekosistem ekonomi mandiri yang terus berkembang pesat.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Winda Triana, mengungkapkan bahwa kekayaan laut selatan Banten ini didominasi oleh spesies bernilai ekonomis tinggi. Beberapa di antaranya meliputi tuna, cakalang, layur, tenggiri, marlin, wahoo, sarden, barakuda, hingga tongkol. Untuk komoditas premium seperti tuna, beratnya bahkan ada yang menyentuh angka 60 kilogram per ekor. Dengan harga jual berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram tergantung kualitasnya, hasil tangkapan ini sebagian besar disalurkan ke Jakarta untuk diekspor, sementara sisanya diolah secara lokal guna memperkuat rantai nilai ekonomi daerah.
Skala ekonomi yang dihasilkan dari sektor ini tidak main-main. Data dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat menunjukkan angka transaksi yang fantastis, yakni mencapai sekitar Rp8 miliar setiap bulan, atau setara dengan Rp96 miliar per tahun. Angka ini sebagian besar disumbang oleh transaksi ikan pelagis besar. Saat ini, tercatat ada sekitar 3.635 nelayan yang menggantungkan hidupnya di perairan selatan Lebak. Dengan volume tangkapan tahunan berkisar antara 6.000 hingga 7.500 ton, laut selatan terbukti menjadi penyokong utama ketahanan pangan dan ekonomi kawasan tersebut.
Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik Setelah Sempat Anjlok Tajam

Keberadaan ikan melimpah ini juga memicu kreativitas masyarakat pesisir dalam mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah. Ratusan UMKM tumbuh subur dengan memproduksi aneka olahan pangan, seperti bakso, kerupuk, ikan asin, dendeng, hingga abon ikan. Salah satu kisah sukses datang dari Bedah, seorang perajin abon ikan berusia 45 tahun di Kecamatan Binuangeun. Menggunakan merek dagang "Bu Bedah", ia mampu memproduksi hingga 500 kilogram abon ikan setiap bulan untuk dipasok ke Jakarta dan Tangerang. Dengan harga jual Rp150 ribu per kilogram, usahanya kini sukses menghasilkan omzet bulanan sebesar Rp75 juta. Produk abon buatannya dikenal tahan hingga delapan bulan tanpa bahan pengawet dan kaya protein.
Di sisi lain, kepastian pasokan ikan di laut juga memberikan ketenangan bagi para nelayan saat melaut. Rohman, seorang nelayan senior berusia 55 tahun yang biasa bersandar di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binuangeun, menceritakan pengalamannya. Baginya, keberadaan stok ikan pelagis besar di Samudera Hindia adalah jaminan kelangsungan hidup keluarganya. Dalam satu kali perjalanan melaut yang biasanya memakan waktu sekitar satu pekan, ia dan rekan-rekannya bisa membawa pulang pendapatan bersih sekitar Rp1,8 juta setelah dipotong seluruh biaya operasional kapal.
Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Melalui integrasi yang kuat antara sektor tangkap di laut lepas dan industri pengolahan di darat, Kabupaten Lebak berhasil membuktikan bahwa komoditas lokal mampu bersaing di pasar nasional hingga global. Langkah pembinaan yang konsisten dari pemerintah daerah diharapkan dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut ini. Dengan demikian, ikan pelagis besar akan terus menjadi pilar kemakmuran yang kokoh bagi ribuan keluarga di sepanjang pesisir selatan Banten untuk generasi-generasi mendatang.






