Berita Viral Terkini

Jepang Temukan Sumber Logam Tanah Jarang di Dasar Pasifik untuk Lepas dari Ketergantungan China

Yolanda TobanPublished 25 Jul 2026 - 13.010 Reads
Bagikan WhatsAppX
Jepang Temukan Sumber Logam Tanah Jarang di Dasar Pasifik untuk Lepas dari Ketergantungan China
Ilustrasi Ekonomi. Foto: CNBC Indonesia - News.
A-A+

Di kedalaman enam kilometer di bawah permukaan Samudra Pasifik, sebuah revolusi teknologi dan geopolitik sedang berlangsung. Jepang baru saja mengumumkan keberhasilan bersejarah dalam mengangkat lumpur kaya logam tanah jarang (rare earth) dari dasar laut dekat Pulau Minamitori. Langkah berani ini tidak hanya menandai pencapaian ilmiah yang luar biasa, tetapi juga menjadi strategi krusial Negeri Sakura untuk melepaskan diri dari cengkeraman monopoli pasokan mineral kritis oleh China.

Penemuan ini bermula dari misi eksplorasi selama satu bulan yang diselesaikan pada Februari 2026 menggunakan kapal pengeboran ilmiah Chikyu. Berlokasi sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo, misi tersebut mencatatkan sejarah sebagai yang pertama di dunia yang berhasil mengangkat lumpur kaya mineral secara berkelanjutan dari kedalaman ekstrem. Dari analisis laboratorium terhadap sampel yang diambil, pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa sekitar 54% kandungan logam tanah jarang dalam lumpur tersebut masuk dalam kategori menengah dan berat yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Meskipun demikian, angka pasti total cadangan di wilayah tersebut belum dirilis karena keterbatasan sebaran lokasi pengambilan sampel.

Also Read

Investor Domestik Topang IHSG di Tengah Aksi Jual Asing

Dari sekitar 50 ton lumpur yang berhasil dibawa ke permukaan, para peneliti mengidentifikasi berbagai unsur bernilai tinggi yang menjadi tulang punggung industri modern. Di antaranya adalah yttrium yang sangat dibutuhkan untuk sektor kedirgantaraan, energi, dan semikonduktor. Ditemukan pula gadolinium yang menjadi bahan utama mesin pemindai MRI, serta dysprosium, komponen vital dalam pembuatan magnet berkinerja tinggi untuk kendaraan listrik. Keberadaan unsur-unsur ini mempertegas bahwa dasar laut Pasifik menyimpan kunci bagi masa depan teknologi global.

Jepang tidak ingin membuang waktu untuk segera memanfaatkan potensi raksasa ini. Pemerintah telah menyusun rencana uji coba penambangan skala besar yang dijadwalkan mulai berjalan pada Februari 2027. Targetnya cukup ambisius, yaitu mengeruk sekitar 350 ton lumpur setiap harinya dari dasar laut. Lumpur yang berhasil diangkat nantinya akan dikeringkan terlebih dahulu di Pulau Minamitori sebelum dikirim ke daratan utama Jepang untuk menjalani proses pemisahan, pemurnian, hingga peleburan logam. Kazushige Kikuchi, Manajer Proyek dari Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), menjelaskan bahwa uji coba ini akan menjadi fondasi penting untuk menilai kelayakan produksi skala industri yang ditargetkan selesai dievaluasi pada Maret 2028.

Also Read

Pemerintah Pastikan TNI dan Polri Tidak Memiliki Wewenang Menagih Pajak

Langkah agresif Jepang ini menjadi respons langsung terhadap kebijakan perdagangan China yang kian memperketat keran ekspornya. Sejak April 2025, Beijing telah membatasi ekspor logam tanah jarang berat beserta teknologi magnet terkait, dan memperketatnya lagi pada Januari 2026 dengan menyasar sejumlah konglomerasi besar asal Jepang. Dengan berhasilnya proyek penambangan laut dalam ini, Jepang berpeluang besar mengamankan rantai pasok domestiknya sekaligus mengubah peta persaingan mineral kritis dunia yang selama ini didominasi oleh sang tetangga.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca