Perairan Teluk Tomini yang biasanya menyuguhkan pemandangan indah kini diselimuti ketegangan setelah sebuah kapal cepat yang mengangkut belasan jiwa dilaporkan hilang kontak. Perjalanan wisata yang semula direncanakan sebagai pelayaran menyenangkan melintasi batas provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo mendadak berubah menjadi operasi penyelamatan darurat. Hingga kini, keberadaan sebelas wisatawan asing beserta awak kapal tersebut masih menjadi misteri yang belum terpecahkan di tengah luasnya lautan.
Peristiwa ini bermula ketika kapal cepat tersebut bertolak dari Pelabuhan Tojo Una-una di Sulawesi Tengah pada hari Jumat (24/7) sekitar pukul 07.00 WITA. Dengan estimasi waktu tempuh sekitar empat jam, kapal yang juga membawa satu orang nakhoda dan satu anak buah kapal (ABK) ini dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, pada pukul 11.00 WITA. Namun, waktu kedatangan yang dinanti-nanti lewat begitu saja tanpa ada tanda-tanda fisik dari kapal maupun komunikasi radio dari awak kapal.
MUI Tegaskan Penolakan Terhadap LGBTQ dalam Kongres Umat Islam Indonesia

Kehilangan kontak di tengah jalur pelayaran ini segera memicu kesiapsiagaan penuh dari tim penyelamat. Kepala Basarnas Gorontalo, Heriyanto, membenarkan adanya laporan hilangnya kontak kapal cepat tersebut. Langkah cepat langsung diambil dengan membangun koordinasi lintas sektor dan wilayah guna memperluas jangkauan pencarian. Pihak Basarnas Gorontalo kini bekerja sama erat dengan Basarnas Palu, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Gorontalo, serta stasiun radio pantai untuk memantau setiap sinyal darurat yang mungkin terpancar.
Kendala utama yang dihadapi oleh tim penyelamat saat ini adalah minimnya informasi awal mengenai titik koordinat terakhir kapal sebelum kehilangan kontak secara total. Heriyanto mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan pasti mengenai kondisi fisik kapal maupun keadaan para penumpang di dalamnya. Kendati demikian, pemantauan intensif dan patroli laut terus dilakukan dengan harapan ada petunjuk sekecil apa pun, seperti puing atau sinyal darurat, yang dapat mengarahkan tim SAR gabungan ke lokasi keberadaan para korban.
Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Berdasarkan data manifes yang dihimpun oleh pihak berwenang, sebelas wisatawan asing yang berada di dalam kapal cepat tersebut diidentifikasi sebagai Milan Kasik, Rani Permentier, Mathijs Sercu, Jelka Van Driesum, Hinke Van Deer, Roeland Van Driesum, Age Van Driesum, Matthias Prange, Celine Josette Menguy, Hector Fabio Prange, dan Ronny Josue Prange. Nasib kesebelas warga asing beserta dua awak kapal kini bergantung penuh pada kesigapan tim SAR gabungan yang terus berkejaran dengan waktu di tengah ketidakpastian cuaca dan luasnya perairan Sulawesi.






