Pasar saham Korea Selatan tengah menghadapi tekanan berat setelah kapitalisasi pasarnya merosot tajam dalam beberapa waktu terakhir. Sekitar US$1 triliun atau setara dengan Rp18.076 triliun nilai kapitalisasi pasar saham di bursa negara tersebut menguap sejak indeks Kospi mencapai titik puncaknya pada bulan Juni lalu. Dengan penyusutan yang signifikan ini, nilai pasar saham Korea Selatan secara keseluruhan saat ini berada di kisaran US$4 triliun.
Kemerosotan ini terutama didorong oleh koreksi tajam pada indeks acuan serta saham-saham teknologi raksasa. Sejak mencapai puncak pada bulan Juni, indeks Kospi terpantau merosot hingga 25%. Dua raksasa teknologi asal Korea Selatan, yakni Samsung dan SK Hynix, turut merasakan dampak terberat dengan nilai pasar masing-masing yang terpangkas lebih dari 30% sejak periode puncak tersebut. Kendati mengalami penurunan yang cukup dalam belakangan ini, indeks Kospi secara keseluruhan masih mencatatkan kenaikan sebesar 62% sepanjang tahun berjalan.
Pemicu utama dari koreksi ini adalah munculnya sentimen negatif terkait prospek permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Sentimen tersebut memicu kejatuhan indeks Kospi hingga hampir 9% pada hari Senin pekan lalu. Dampak dari sentimen negatif ini tidak berhenti di pasar domestik, melainkan turut merembet ke bursa Wall Street di Amerika Serikat, di mana saham SK Hynix yang tercatat di bursa AS anjlok sebesar 9,3%.
Pakai Ganjil-Genap, Pertamina Sebut Antrean di SPBU Makassar Mulai Melandai

Perkembangan ini memperlihatkan eratnya hubungan antara bursa Korea Selatan dengan pergerakan saham teknologi global saat ini. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, korelasi 60 hari antara indeks Kospi dan Nasdaq 100 kini telah meningkat ke angka 0,46. Angka korelasi ini tergolong tinggi karena hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan rata-rata korelasi lima tahun terakhir yang hanya sebesar 0,16. Chief Investment Officer Tigress Financial Partners, Ivan Feinseth, menilai bahwa Korea Selatan saat ini telah menjadi bagian dari ekosistem volatilitas yang sama dengan Nasdaq serta Philadelphia Semiconductor Index (SOX). Bahkan, sensitivitas indeks Nasdaq 100 terhadap pergerakan turun Kospi sempat menyentuh tingkat tertingginya sejak tahun 1990 pada 7 Juli lalu.
Kondisi tersebut membuat para pelaku pasar global memberikan perhatian lebih besar pada pergerakan bursa Korea Selatan. Manajer portofolio PineBridge Investments, Hani Redha, mengungkapkan bahwa para investor kini tidak dapat lagi mengabaikan pasar Korea Selatan apabila ingin membaca arah pergerakan perdagangan saham AI. Di sisi lain, Andrew Jackson dari Ortus Advisors untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade terakhir mulai memasukkan grafik pergerakan Kospi sebagai indikator yang ia pantau secara rutin. Hal senada diungkapkan oleh Herald van der Linde dari HSBC Holdings Plc, yang menyebutkan bahwa topik mengenai pasar Korea Selatan kini menjadi pembahasan di hampir semua pertemuan investor.
17 Tahun Indonesia Eximbank (LPEI) Dorong Ekspor Nasional

Tingginya perhatian global juga dirasakan di tingkat korporasi investasi besar. Tai Hui selaku Chief Asia Market Strategist di JPMorgan Asset Management mengaku bahwa dirinya baru pada tahun ini mulai mempresentasikan kondisi pasar Korea Selatan kepada tim globalnya, sebuah langkah yang baru pertama kali dilakukan dalam 14 tahun terakhir. Di tengah tingginya volatilitas ini, pemerintah Korea Selatan mengambil langkah dengan menghentikan sementara penerbitan produk ETF leverage yang berbasis saham tunggal guna meredam spekulasi dan volatilitas pasar. Terkait hal tersebut, Chisa Kobayashi dari UBS SuMi TRUST Wealth Management mengingatkan bahwa dominasi pasar yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan leverage sering kali membuat pergerakan harga saham menyimpang jauh dari fundamental perusahaan.






