Kasus dugaan suap dalam penerimaan mahasiswa baru di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi bahan evaluasi mendalam terhadap sistem seleksi mahasiswa di perguruan tinggi. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meninjau proses penerimaan tersebut guna memastikan tata kelola pendidikan tinggi berjalan sesuai prinsip keadilan dan keterbukaan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyampaikan bahwa evaluasi penting dilakukan untuk memastikan letak akar persoalan yang sebenarnya. Pemerintah perlu melihat apakah sistem jalur mandiri itu sendiri yang menjadi sumber permasalahan atau justru penyimpangan praktik yang terjadi dalam pelaksanaannya.
Stella menegaskan bahwa kementerian belum dapat menarik kesimpulan bahwa keberadaan jalur mandiri merupakan penyebab dari persoalan seleksi masuk kampus. Menurutnya, Kemdiktisaintek masih harus meninjau dan mempelajari secara menyeluruh sistem maupun praktik penerimaan mahasiswa baru sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Golkar Nilai AHY Beri Sinyal Siap Maju Pilpres 2029

"Evaluasi juga perlu dilakukan untuk menentukan apakah jalur mandiri memang menjadi sumber persoalan atau justru praktik yang terjadi dalam pelaksanaannya," ujar Stella saat memberikan keterangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (7/9/2026).
Audit dan Penguatan Integritas Kampus
Terkait langkah pengawasan seleksi masuk perguruan tinggi, Stella menjelaskan bahwa audit dan pemantauan bukan baru dilakukan setelah mencuatnya kasus di Unsoed. Inspektorat Jenderal Kemdiktisaintek telah melakukan proses audit dan pengawasan mengenai penerimaan mahasiswa sejak lama sebagai bagian dari fungsi kontrol kementerian.
Kronologi Ulama KH Ahmad Fudholi Meninggal Dunia Usai Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak

Di samping melakukan evaluasi terhadap sistem penerimaan mahasiswa, Kemdiktisaintek juga berfokus memberikan penguatan mengenai aspek integritas dan tata kelola perguruan tinggi.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Stella menyebutkan terselenggaranya Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi yang digelar selama lima hari. Forum kepemimpinan kampus ini membahas materi terkait penguatan integritas, akuntabilitas, dan transparansi dalam penyelenggaraan tata kelola perguruan tinggi.






