Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, memicu luapan dua sungai besar dan menyebabkan banjir di sejumlah wilayah permukiman warga. Peristiwa bencana banjir tersebut terjadi pada Minggu (6/9/2026) setelah Sungai Lahomi dan Sungai Moro'o tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis akibat guyuran hujan lebat.
Luapan air dari kedua sungai tersebut menggenangi kawasan pemukiman warga di empat kecamatan dengan ketinggian muka air mencapai hingga sekitar 100 sentimeter. Informasi terkait situasi bencana tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati.
Sri Wahyuni menjelaskan bahwa empat wilayah yang terendam genangan banjir mencakup Kecamatan Lahomi, Kecamatan Mandrehe, Kecamatan Mandrehe Barat, dan Kecamatan Sirombu. Sejumlah rumah milik warga yang berada di kawasan bantaran sungai dan dataran rendah pada empat kecamatan tersebut terendam oleh luapan air.
Dampak Kerusakan Lahan dan Fasilitas Umum
Selain menggenangi rumah-rumah penduduk, bencana banjir di Kabupaten Nias Barat turut menimbulkan dampak kerusakan fisik yang cukup luas, terutama pada sektor pertanian masyarakat setempat. Luapan air merusak area lahan pertanian warga, termasuk hamparan sawah dan jaringan irigasi penunjang pertanian yang berada di wilayah terdampak.
Kejagung Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Lahan PT Inhutani V di Lampung

Tidak hanya merusak sektor pertanian, genangan banjir juga mengganggu mobilitas harian warga sekitar. Akses jalan yang biasa digunakan masyarakat di beberapa titik dilaporkan mengalami kerusakan fisik akibat terjangan arus air banjir.
Kendati luapan air merendam rumah dan infrastruktur publik, BPBD mencatat tidak ada korban akibat bencana ini. Berdasarkan pendataan dan data sementara di lapangan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun warga yang mengalami luka-luka. Selain itu, BPBD juga melaporkan bahwa hingga saat ini belum terdapat warga yang mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Penanganan dan Asesmen Lapangan oleh BPBD
Menanggapi situasi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Nias Barat melalui BPBD setempat langsung turun ke lapangan guna mengambil langkah cepat penanganan bencana. Tim BPBD telah melaksanakan kegiatan survei serta asesmen di sejumlah lokasi terdampak untuk memetakan luasan dampak banjir dan kebutuhan warga.
Mahasiswa Diduga Jadi Korban Pengeroyokan di Kalibata Jaksel

Hingga Senin (7/9), personel BPBD Kabupaten Nias Barat masih terus bersiaga di lapangan untuk melakukan pemantauan perkembangan debit air serta penanganan darurat yang disesuaikan dengan kondisi di lokasi kejadian.
Di tingkat provinsi, BPBD Provinsi Sumatera Utara terus menjalin komunikasi dan koordinasi intensif bersama BPBD Kabupaten Nias Barat. Koordinasi tersebut difokuskan pada penanganan dampak bencana serta pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan situasi banjir di seluruh kecamatan terdampak.






