Gangguan irama jantung atau aritmia berisiko memicu kondisi fatal seperti henti jantung mendadak jika tidak segera ditangani secara tepat. Penurunan detak jantung yang drastis dapat memutus pasokan darah dan oksigen menuju otak serta organ vital lainnya. Untuk mengatasi ancaman ini, pemanfaatan alat pacu jantung tanpa kabel (leadless pacemaker) kini menjadi alternatif intervensi medis yang ditujukan bagi pasien aritmia, khususnya yang memiliki komplikasi pada pembuluh darah.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang, Budi Ario Tejo, merekomendasikan teknologi permanen tanpa kabel tersebut guna menjaga stabilitas detak jantung pasien tanpa harus melalui prosedur pembedahan konvensional yang lebih invasif.
Mengapa Gangguan Irama Jantung Perlu Diwaspadai?
Aritmia timbul akibat adanya gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Masalah ini menyebabkan denyut jantung berdetak tidak teratur, baik menjadi terlalu cepat maupun terlalu lambat. Salah satu bentuk aritmia yang sering diabaikan adalah bradikardia, yakni kondisi detak jantung yang melambat.
Gejala detak jantung lambat kerap disalahartikan masyarakat sebagai rasa lelah biasa atau akibat kurang istirahat. Padahal, penurunan frekuensi denyut maupun jeda henti jantung sejenak berdampak langsung pada sirkulasi sistemik tubuh.
Temuan Karbon Organik di Sungai Kuno Mars Perkuat Petunjuk Kehidupan di Planet Merah

Ketika irama jantung melambat atau terhenti beberapa saat, volume darah kaya oksigen yang dipompa ke otak dan organ-organ penting mengalami penurunan signifikan. Kondisi defisit oksigen mendadak inilah yang berpotensi memicu pingsan hingga henti jantung mendadak.
Bagaimana Cara Kerja Alat Pacu Jantung Tanpa Kabel?
Pasien aritmia memerlukan stimulasi impuls listrik ringan secara berkala agar ritme pemompaan jantung tetap stabil dan tidak berada di bawah batas aman. Alat pacu jantung berfungsi mengalirkan impuls listrik terkontrol tersebut saat sistem alami jantung gagal bekerja optimal.
Berbeda dengan perangkat konvensional yang membutuhkan kabel transvena (lead) dan pembuatan kantung implan (pocket) di bawah kulit dada, leadless pacemaker ditempatkan langsung di dalam ruang jantung. Dari segi dimensi, perangkat modern ini berukuran sekitar 90 persen lebih kecil dibandingkan model konvensional terdahulu.
Peniadaan kabel dan kantung implan dada secara langsung meminimalkan sejumlah risiko medis. Pasien terhindar dari komplikasi luka pada area dada, infeksi jaringan, hingga risiko pacemaker-twiddler syndrome, yaitu pergeseran posisi perangkat akibat manipulasi atau gerakan tubuh yang tidak disadari oleh pasien.
Mahasiswa Diduga Jadi Korban Pengeroyokan di Kalibata Jaksel

Bagaimana Prosedur Pemasangan dan Masa Pemulihan Pasien?
Proses pemasangan alat pacu jantung tanpa kabel tidak memerlukan tindakan operasi bedah terbuka. Tim dokter memasukkan perangkat menggunakan bantuan kateter melalui pembuluh darah vena di area pangkal paha.
Kateter tersebut mengarahkan perangkat mini menyusuri jalur pembuluh darah hingga mencapai posisi yang ditentukan di dalam jantung. Jalur pemasangan minimal invasif ini membuat masa pemulihan pasien di rumah sakit berlangsung jauh lebih singkat dibandingkan prosedur bedah dada konvensional.
Selain pemasangan alat pacu jantung untuk bradikardia, penanganan masalah kelistrikan jantung lain seperti Atrial Fibrilasi juga memanfaatkan metode berbasis kateter. Terapi ablasi kateter terbukti memberikan efektivitas lebih tinggi dibandingkan sekadar terapi obat-obatan untuk memulihkan keteraturan ritme jantung pasien.






