Bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Gunungkidul membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air harian. Di Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, sejumlah warga harus merelakan hewan ternak mereka dijual agar bisa membeli pasokan air bersih. Krisis air ini mulai berdampak pada masyarakat setempat sejak berakhirnya musim penghujan pada April 2026.
Wilayah Dusun Kemesu saat ini dihuni oleh sedikitnya 68 kepala keluarga. Secara keseluruhan, terdapat 239 jiwa di area tersebut yang terdampak langsung oleh kekeringan. Kapanewon Rongkop sendiri merupakan kawasan karst yang memiliki karakteristik minim air permukaan. Karena tidak tersedianya aliran sungai maupun sumber air tanah, warga sangat bergantung pada pasokan air dari luar. Masalah krisis air bersih ini merupakan kendala yang terus dihadapi oleh warga Kemesu setiap musim kemarau sejak tahun 2012.
Sutopo (46), salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa menjual dua ekor ayam kampung miliknya untuk membeli air. Setiap ekor ayam tersebut laku terjual dengan harga Rp40.000 hingga Rp50.000. Selain mengandalkan uang dari hasil penjualan ternak, Sutopo yang bekerja di bidang jasa kebersihan juga harus menyisihkan sebagian gajinya untuk menutupi biaya pembelian air bersih.
Hari Keempat Pencarian Wartawan di Sekitar Anak Krakatau Masih Belum Membuahkan Hasil

Biaya yang harus dikeluarkan warga untuk air terbilang cukup besar. Untuk satu tangki air bersih, mereka harus membayar Rp120.000. Pasokan dari satu tangki tersebut umumnya hanya bertahan selama dua pekan untuk memenuhi kebutuhan harian satu keluarga. Sebelumnya, warga sempat memanfaatkan tandon pribadi untuk menampung air hujan, namun persediaan tersebut hanya cukup untuk pemakaian selama sekitar satu bulan. Sementara itu, pasokan air dari PDAM yang berada di tiga titik hanya mengalir satu kali dalam sepekan.
Mayoritas warga Dusun Kemesu berprofesi sebagai petani dan peternak. Di tengah krisis ini, mereka lebih memilih menjual unggas seperti ayam kampung karena nilainya yang lebih kecil. Hewan ternak bernilai tinggi seperti sapi dan kambing tetap dipertahankan sebagai tabungan jangka panjang. Sulitnya situasi di desa akibat kekeringan juga mendorong banyak pemuda dari Dusun Kemesu untuk pergi merantau mencari pekerjaan ke kota lain, seperti Yogyakarta dan Solo.
Kiai di Pati Diduga Cabuli Santriwatinya, Dirayu Pakai Uang, Dilakukan 8 Kali

Untuk meringankan beban masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul telah mendistribusikan bantuan air bersih ke Pedukuhan Kemesu. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyatakan bahwa penyaluran air telah dilakukan sebanyak dua kali. Pengiriman pertama dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni, dan dilanjutkan dengan penyaluran kedua pada Rabu, 1 Juli. Pada tahap penyaluran kedua tersebut, pihak BPBD mengirimkan air bersih sebanyak 40.000 liter bagi warga terdampak.






