Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Jawa Barat pada tahun 2026 memberikan dampak nyata yang sangat merugikan bagi para petani lahan garapan di kawasan Gedebage, Kota Bandung. Beberapa hektare sawah dan perkebunan sayur di kawasan tersebut dilaporkan mengalami gagal panen yang cukup parah akibat kekeringan lahan. Para petani di wilayah ini menilai bahwa kondisi kemarau tahun 2026 terasa jauh lebih parah apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Para petani penggarap kini harus memutar otak dan mencari cara lain demi bertahan hidup di tengah ketiadaan pemasukan akibat rusaknya hasil bumi yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian utama mereka.
Salah satu petani lahan garapan yang terdampak langsung oleh krisis iklim ini adalah Jajat, seorang pria berusia 50 tahun. Jajat merupakan seorang mantan perajin kayu yang dalam beberapa tahun terakhir beralih profesi dan fokus menjadi petani. Saat ini, Jajat harus merelakan sekitar satu hektare lahan perkebunan sayur yang digarapnya mengalami gagal panen secara total. Tanaman sayur-sayuran seperti tomat, kacang-kacangan, maupun jagung yang telah ia tanam sejak awal tahun ini mati mengering dan tidak dapat diselamatkan. Kerugian ini terasa kian berat bagi Jajat mengingat ia sudah harus merogoh kocek untuk membayar biaya sewa lahan garapan tersebut sebesar Rp3 juta per tahun. Dengan gagalnya panen kali ini, ia kini tidak memiliki kepastian pemasukan untuk menghadapi beberapa bulan ke depan. Selain perkebunan sayuran, lahan persawahan seluas sekitar dua hektare yang juga dikelolanya tampak sangat kering dan dipastikan turut mengalami gagal panen.
Kondisi serupa dan penuh kecemasan juga dirasakan oleh Saepudin, seorang petani berusia 62 tahun yang telah mengolah lahan pertanian di kawasan Gedebage sejak tahun 1982. Saepudin kini dirundung kekhawatiran yang mendalam akan potensi gagal panen pada lahan sawah garapannya yang memiliki luas sekitar satu hektare. Menurut penuturan Saepudin, terdapat sekitar enam petani di wilayah tersebut yang saat ini terkena dampak langsung oleh bencana kekeringan. Ketersediaan air yang sangat minim di sekitar lahan pertanian memaksa para petani hanya bisa memompa air yang mengalir dan tertampung secara berkala, yakni hanya bisa diambil setiap tiga hari sekali. Saepudin juga mengungkapkan bahwa sejauh ini bantuan yang diturunkan dari pemerintah kota baru sebatas bantuan pupuk, sementara bantuan berupa mesin pompa air belum pernah mereka terima sama sekali.
Menengok Mall Rongsok Depok, Surga Barang Bekas dan Benda Jadul

Kondisi kering kerontang yang melanda wilayah pertanian ini rupanya selaras dengan prediksi yang telah dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa musim kemarau pada tahun 2026 memang diproyeksikan datang lebih awal, berlangsung dengan durasi yang lebih lama, serta memiliki kondisi yang lebih kering dibandingkan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir. Kemarau ekstrem tahun ini juga diperparah oleh adanya fenomena El Ni帽o yang diprakirakan mulai aktif sejak akhir bulan April hingga awal Mei 2026. Akibat dari kombinasi faktor cuaca tersebut, durasi kemarau diperkirakan dapat mencapai 13 hingga 15 dasarian. Dampak kekeringan yang berkepanjangan ini bahkan sudah mulai dirasakan secara langsung oleh para petani sejak bulan kelima, yaitu April 2026.
Menanggapi situasi kekeringan yang kian mengkhawatirkan ini, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, turut memberikan penjelasan terkait langkah antisipasi pemerintah. Ia memaparkan bahwa secara umum terdapat sekitar 100 hektare lahan pertanian di Kota Bandung yang masih berada dalam kondisi terkendali. Kendati demikian, wilayah Bandung Timur yang memiliki sekitar 18 kawasan pertanian memang memerlukan perhatian dan pengawasan khusus. Di kawasan Gedebage sendiri, terdapat sekitar lima hektare lahan pertanian yang masuk dalam status perlu diwaspadai, serta terdapat indikasi sekitar 10,5 hektare lahan yang saat ini sangat membutuhkan pasokan air. Upaya penanganan dan mitigasi harus segera dilakukan secara masif mengingat puncak musim kemarau di Kota Bandung diproyeksikan baru akan terjadi pada bulan September dan Oktober mendatang.
Menkes Sebut Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia Termasuk Buruk di ASEAN

Krisis air akibat musim kemarau panjang ini ternyata tidak hanya melanda wilayah Kota Bandung saja, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah lain di Jawa Barat. Berdasarkan data kebencanaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per bulan Juli 2026, krisis air telah meluas secara masif. Di Kabupaten Bekasi, tercatat terdapat 39 titik kekeringan yang tersebar di sembilan desa, dan kondisi ini mengancam kehidupan lebih dari 13.985 jiwa. Sementara itu, di wilayah Kabupaten Majalengka, sedikitnya 30 desa dilaporkan tengah mengalami krisis air bersih yang cukup parah. Kondisi krisis ekologis dan kebencanaan yang meluas ini juga telah mendapat sorotan tajam dari Aldi Maulana, anggota Divisi Disaster Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat, yang menuntut adanya penanganan lebih serius dari pihak berwenang.






