Yayasan Bakti Merah Putih (BMP) berkolaborasi dengan Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (Ipemi) Jakarta Selatan menyalurkan bantuan berupa alat penyaring air minum kepada masyarakat. Penyaluran bantuan ini dilaksanakan di Kampung Bulak Bondan, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, 30 Juli 2026. Program ini merupakan langkah nyata untuk membantu masyarakat setempat mendapatkan akses air minum yang layak. Bantuan yang diberikan berupa alat penyaring air yang beroperasi tanpa menggunakan listrik, sehingga memberikan kepraktisan bagi warga untuk menggunakannya kapan saja dan di mana saja.
Pemilihan Desa Sukawangi sebagai lokasi program didasarkan pada hasil survei lapangan yang menunjukkan bahwa kualitas air sumur di wilayah tersebut masih kurang baik. Pendiri Bakti Merah Putih, Atta Ul Karim, menyampaikan bahwa air sumur di daerah tersebut kurang jernih dan cenderung berlumut. Selain itu, lokasi Kampung Bulak Bondan berada di tengah area persawahan yang cukup jauh dari jalan utama. Kondisi geografis yang terpencil ini membuat akses masyarakat terhadap air minum layak menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan perhatian lebih. Melalui penyaluran alat tersebut, diharapkan masyarakat memiliki solusi atas keterbatasan air bersih.
Alat penyaring air minum yang disalurkan dalam program ini telah teruji kualitasnya. Sales Water Consultant Nazava, Permana, menjelaskan bahwa alat penyaring tersebut telah melalui serangkaian pengujian di 30 laboratorium bersertifikasi. Hasil pengujian membuktikan bahwa alat tersebut memenuhi standar kualitas air minum yang diakui secara internasional, termasuk mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Permana juga menyebutkan bahwa penggunaan alat serupa selama 13 tahun terbukti mampu menjaga kesehatan keluarga serta menghemat pengeluaran karena tidak perlu lagi membeli air galon.
Demi Persija vs Persib, The Jakmania Rela Datang dari Luar Jakarta

Kolaborasi sosial ini turut melibatkan Linda Sjamsoeddin selaku Ketua Ipemi Jakarta Selatan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan warga agar selalu membiasakan mengonsumsi air minum dengan adab yang baik, seperti minum dalam posisi duduk. Di sisi lain, Ketua Kampung Bulak Bondan, Wabih, menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang diberikan oleh para donatur. Wabih mengajak warganya untuk bersyukur dan memanfaatkan alat tersebut dengan sebaik-baiknya. Bantuan ini diyakini dapat membantu mengurangi beban pengeluaran warga untuk membeli air kemasan, sehingga dananya bisa dialihkan untuk kebutuhan keluarga lainnya.
Ketua Yayasan Bakti Merah Putih, Rifai Akif, menegaskan bahwa program penyediaan air minum bersih ini dirancang sebagai program jangka panjang. Manfaat dari alat penyaring air ini diharapkan dapat terus dirasakan oleh masyarakat selama bertahun-tahun ke depan. Rifai juga mengajak masyarakat, dunia usaha, dan para dermawan untuk ikut berpartisipasi memperluas akses air minum layak bagi warga berpenghasilan rendah. Keberhasilan pelaksanaan program perdana ini akan menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama di masa mendatang.
Motif Pengeroyokan Pedagang Cermin di Pejompongan Terungkap, 3 Tersangka Ditangkap

Kebutuhan akan air bersih dan air minum layak juga menjadi fokus penanganan di berbagai wilayah lain di Indonesia. Di Jawa Barat, krisis air bersih ditangani oleh Baznas RI yang menyalurkan bantuan air bersih kepada 1.395 kepala keluarga (KK) dengan total 5.200 jiwa. Penyaluran tersebut tersebar di empat kecamatan dan tujuh desa di wilayah Bandung Barat untuk membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat dampak kekeringan.
Sementara itu, krisis air bersih di Provinsi Jawa Tengah telah meluas hingga ke 25 kabupaten dan kota. Pemerintah telah menyalurkan sebanyak 6,8 juta liter air yang diperuntukkan bagi 184.643 jiwa terdampak kekeringan. Di Kabupaten Temanggung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mulai menyalurkan bantuan air bersih di Desa Gentan, Kecamatan Kranggan. Distribusi bantuan di wilayah Temanggung menyasar 80 titik lokasi krisis air bersih yang tersebar di 21 desa pada 9 wilayah kecamatan, dengan jumlah warga terdampak mencapai 9.537 KK. Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih juga dilakukan melalui penempatan unit filter air bersih dan fasilitas internet di Puskesmas Batipuh Selatan.






