Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifPariwisataTeknologiWisataKesehatanHiburanMetroKriminalMetropolitanLingkunganPendidikanKebudayaanMusikGaya HidupTransportasiKeuanganSainsEdukasiManajemenReligiBerita NasionalBerita DaerahBerita BudayaHukum & KriminalBeritaKetenagakerjaanPertanianEkonomi dan BisnisEkonomi & BisnisPopuler
Beranda/Internasional

Krisis Migrasi Ceuta, Spanyol Deportasi Puluhan Ribu Orang dan Perketat Perbatasan

Marthen PalutunganDiterbitkan 2 Agu 2026 - 09.13 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Krisis Migrasi Ceuta, Spanyol Deportasi Puluhan Ribu Orang dan Perketat Perbatasan
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Spanyol saat ini tengah menghadapi salah satu krisis migrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Puluhan ribu migran berupaya menerobos wilayah eksklave Ceuta yang terletak di Afrika Utara. Gelombang penyeberangan massal dari wilayah Maroko tersebut berujung tragis dan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 57 orang yang mencoba menyeberang untuk masuk ke wilayah Spanyol. Tragedi kemanusiaan ini memaksa pemerintah setempat untuk segera mengambil tindakan tegas guna mengendalikan situasi di perbatasan.

Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiPemerintahanBisnisSosialPeristiwaNasionalMegapolitanInternasionalOlahragaOtomotifPariwisataTeknologiWisataKesehatanHiburanMetroKriminalMetropolitanLingkunganPendidikanKebudayaanMusikGaya HidupTransportasi

Berdasarkan keterangan resmi dari pemerintah Spanyol, skala krisis ini sangat masif dengan perkiraan sekitar 60.000 orang mencoba memasuki Ceuta melalui jalur darat maupun laut dalam kurun waktu 24 jam. Sebagian besar dari para migran tersebut memilih rute laut dengan berenang mengitari struktur pemecah gelombang di kawasan Pantai Tarajal. Guna mengatasi lonjakan yang terjadi, otoritas Spanyol mengambil langkah pemulangan secara cepat. Dari total sekitar 50.000 orang yang terdeteksi mencoba masuk ke Ceuta sejak gelombang migrasi ini bermula, lebih dari 48.000 orang di antaranya telah dikembalikan ke Maroko dalam kurun waktu 48 jam. Selain itu, pada tahap awal penanganan krisis, Spanyol juga telah mendeportasi lebih dari 25.000 orang.

Menyusul terjadinya krisis ini, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez langsung mengunjungi Ceuta untuk memantau situasi di lapangan. Dalam pernyataannya, Sanchez menegaskan bahwa aksi penyeberangan massal tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan Spanyol. Untuk meredam situasi yang kian memanas, aparat gabungan dari Spanyol dan Maroko dikerahkan secara intensif di sepanjang garis perbatasan kedua negara guna mengendalikan kerumunan. Di beberapa titik perbatasan, petugas keamanan terpaksa menggunakan kendaraan water cannon untuk membubarkan massa yang terus berupaya menjebol pembatas masuk.

Baca Juga

Mengenal Bougainville, Calon Negara Baru di Dekat Indonesia yang Akan Merdeka pada 2030

Mengenal Bougainville, Calon Negara Baru di Dekat Indonesia yang Akan Merdeka pada 2030

Selain penertiban langsung oleh aparat keamanan, pemerintah Spanyol juga mulai membangun infrastruktur pertahanan fisik baru di wilayah perairan. Otoritas terkait mulai memasang barikade terapung sepanjang sekitar 500 meter di kawasan Pantai Tarajal. Langkah ini diambil untuk menghalangi upaya penyeberangan melalui jalur laut. Dari hasil penyelidikan sementara, pemerintah Spanyol menduga kuat bahwa gelombang migrasi besar-besaran ini dipicu oleh jaringan penyelundup manusia yang menyebarkan informasi menyesatkan. Kelompok kriminal tersebut dilaporkan mengeksploitasi sebuah putusan Mahkamah Agung Spanyol dengan menyebarkan narasi keliru bahwa migran yang berhasil mencapai Ceuta lewat jalur laut tidak lagi bisa langsung dipulangkan ke Maroko.

Situasi darurat di Ceuta ini turut menjadi perhatian serius dari Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, secara tegas meminta agar jaringan penyelundupan manusia segera diberantas dan dibongkar. Ia menekankan bahwa penyeberangan berbahaya yang mengancam nyawa para migran tersebut harus segera dihentikan. Merespons krisis ini, negara-negara anggota Uni Eropa seperti Jerman dan Prancis menyatakan kesiapan mereka untuk memberikan bantuan kepada Spanyol. Bantuan tersebut termasuk dukungan operasional dari Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Uni Eropa, atau yang dikenal dengan Frontex.

Baca Juga

Ledakan Bom Rakitan di Dekat Restoran Mewah Moskow Tewaskan Tiga Orang

Ledakan Bom Rakitan di Dekat Restoran Mewah Moskow Tewaskan Tiga Orang

Krisis migrasi di wilayah eksklave Ceuta ini mengingatkan kembali pada ketegangan serupa yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2021, wilayah yang berbatasan langsung dengan Maroko ini juga menghadapi krisis migrasi yang cukup parah, di mana lebih dari 10.000 orang dilaporkan memasuki Ceuta hanya dalam jangka waktu dua hari. Pengetatan keamanan di perbatasan dan kolaborasi dengan pihak internasional saat ini diharapkan mampu mengendalikan arus migrasi dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Spanyoluni eropaCeutaMarokoKrisis Migrasi

Berita Terbaru Lainnya

Daftar 13 Kereta Api dari Stasiun Gambir yang Berhenti di Stasiun Jatinegara Imbas Acara di MonasMengenal Bougainville, Calon Negara Baru di Dekat Indonesia yang Akan Merdeka pada 2030Ledakan Bom Rakitan di Dekat Restoran Mewah Moskow Tewaskan Tiga OrangRyan McAidoo Curi Perhatian Enzo Maresca di Laga Pramusim Manchester City vs Inter MilanPolda Metro Jaya Agendakan Pemeriksaan Vicky Prasetyo Terkait Dua Laporan Dugaan PenipuanDilema Berbagi Lokasi dengan Pasangan, Antara Rasa Aman dan PrivasiJadwal Tayang House of the Dragon Season 3 Episode 7 dan Bocoran CeritaDaftar Film Baru dan Promo Bioskop Agustus 2026

Paling Banyak Dibaca

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

Ekonomi

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

25 Jul 2026

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

Hukum

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

25 Jul 2026

Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBA

Olahraga

Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBA

25 Jul 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid Cloud

Teknologi

Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid Cloud

25 Jul 2026

Politisi Senior Gerindra dr Sumarjati Arjoso Meninggal Dunia

Politik

Politisi Senior Gerindra dr Sumarjati Arjoso Meninggal Dunia

25 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi PesawatEkonomi 路 25 Jul 2026
  2. 2Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPKHukum 路 25 Jul 2026
  3. 3Caitlin Clark Menulis Ulang Sejarah dan Mengubah Wajah WNBAOlahraga 路 25 Jul 2026
  4. 4Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025Teknologi 路 25 Jul 2026
  5. 5Mengatasi Ancaman Downtime Sektor Manufaktur dengan Solusi Hybrid CloudTeknologi 路 25 Jul 2026
Keuangan
Sains
Edukasi
Manajemen
Religi
Berita Nasional
Berita Daerah
Berita Budaya
Hukum & Kriminal
Berita
Ketenagakerjaan
Pertanian
Ekonomi dan Bisnis
Ekonomi & Bisnis

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap