Berita Viral Terkini

Lonjakan Harga Minyak Dunia Seret Bursa Saham Asia ke Zona Merah

Togar SiregarPublished 26 Jul 2026 - 07.230 Reads
Bagikan WhatsAppX
Lonjakan Harga Minyak Dunia Seret Bursa Saham Asia ke Zona Merah
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Pasar saham di kawasan Asia kembali menghadapi ujian berat setelah lonjakan harga minyak mentah global memicu kepanikan massal di kalangan investor. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat, ditambah dengan insiden keamanan di jalur laut vital, langsung memberikan dampak domino pada pembukaan perdagangan. Sentimen negatif ini memaksa mayoritas indeks acuan di Asia bergerak ke zona merah sejak bel pembukaan berbunyi.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 mencatat penurunan sebesar 1,2 persen, sementara indeks Topix yang memiliki cakupan lebih luas melemah 1 persen. Tekanan jual yang tidak kalah hebat juga melanda bursa Korea Selatan. Indeks Kospi merosot hingga 1,8 persen pada awal perdagangan, sedangkan indeks Kosdaq yang didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi pasar kecil harus rela terpangkas lebih dalam sebesar 2,17 persen akibat sensitivitasnya terhadap sentimen global.

Sentimen suram ini juga menjalar hingga ke belahan bumi selatan. Indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, melemah 0,47 persen, di mana kontrak berjangkanya terakhir diperdagangkan pada level 8.750, turun cukup jauh dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka 8.839. Di Hong Kong, pergerakan serupa terlihat pada kontrak berjangka indeks Hang Seng yang bertengger di posisi 24.885, melemah dari angka penutupan terakhirnya yang berada di level 25.210,81.

Also Read

Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Layanan Hukum demi Lindungi UMKM dan Musisi

Pemicu utama dari aksi jual massal ini tidak lain adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus angka psikologis. Harga kontrak berjangka minyak Brent melonjak sekitar 7 persen dibandingkan hari sebelumnya, menembus angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melesat sekitar 6 persen setelah adanya laporan mengenai serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di wilayah perairan Laut Merah yang krusial bagi pasokan global.

Menanggapi gejolak ini, Adam Turnquist selaku kepala strategi teknis di LPL Financial memberikan pandangannya. Ia menjelaskan bahwa meskipun kondisi pasar saat ini tidak secara mutlak menjamin harga minyak akan terus merangkak naik, eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa pasar tidak siap menghadapi kejutan kenaikan harga yang tiba-tiba. Menurutnya, ketika sentimen dan posisi pasar sedang sangat bearish, penurunan ekspektasi pasokan yang relatif kecil sekalipun dapat memicu reaksi harga yang sangat luar biasa di pasar komoditas.

Also Read

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Dengan ketidakpastian yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan pada jalur distribusi energi dunia, pelaku pasar di Asia kini dituntut untuk lebih waspada. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi membuat bursa saham regional sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak. Selama ketegangan geopolitik ini belum mereda, volatilitas pasar diperkirakan masih akan terus membayangi pergerakan saham di Asia dalam beberapa waktu ke depan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca