Dunia keuangan global kerap menghadirkan dinamika menarik antara kalkulasi risiko lembaga pemeringkat independen dan realitas antusiasme pasar di lapangan. Fenomena ini tecermin pada penerbitan instrumen utang internasional milik Danantara Investment Management, entitas usaha di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Moody's Ratings memberikan peringkat Baa2 dengan prospek atau outlook negatif untuk program obligasi jangka menengah bernilai 5 miliar dolar AS yang diterbitkan instrumen tersebut. Meskipun label prospek negatif berpotensi menimbulkan keraguan, respons riil pasar modal dunia justru memperlihatkan cerita yang jauh berbeda.
Menanggapi rilis peringkat dari Moody's tersebut, Chief Executive Officer BPI Danantara, Rosan Roeslani, memberikan klarifikasi langsung di Kompleks Istana Kepresidenan. Rosan menekankan bahwa status prospek negatif dari lembaga pemeringkat global tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari penilaian sovereign rating atau peringkat kredit negara Indonesia. Penilaian tersebut tidak mencerminkan kelemahan atau keburukan pada kondisi fundamental bisnis Danantara secara spesifik. Oleh karena itu, Rosan optimistis bahwa prospek negatif tersebut tidak akan menggerus kepercayaan para investor global terhadap surat utang yang mereka rilis.
Optimisme pimpinan BPI Danantara ini didasari oleh fakta lapangan saat mereka menggelar rangkaian promosi atau roadshow di berbagai pusat keuangan utama dunia. Danantara melintasi kota-kota finansial global seperti Singapura, Hong Kong, Jepang, Boston, New York, hingga London. Rangkaian pertemuan tersebut dihadiri oleh lebih dari 120 perusahaan investasi dunia yang menunjukkan ketertarikan tinggi. Bukti nyata dari penerbitan obligasi bertenor 5 tahun dan 10 tahun tersebut adalah raihan imbal hasil atau yield yang kompetitif sebesar 5,35 persen, sebuah indikasi kuat bahwa pasar menyerap produk obligasi ini dengan sangat baik. Bahkan, kesuksesan ini mendorong manajemen untuk mengkaji peluang penerbitan obligasi jangka panjang bertenor di atas 10 tahun.
Jakarta Menjadi Batu Loncatan Pertama Pusat Finansial Internasional Indonesia

Di sisi lain, laporan Moody's secara rinci memaparkan pertimbangan di balik penetapan peringkat Baa2 ini. Moody's mencatat bahwa profil kredit Danantara Investment Management sangat terikat dengan kredibilitas pemerintah Indonesia sebagai pemegang kendali BPI Danantara. Mengingat entitas ini baru beroperasi, belum mengantongi rekam jejak operasional yang panjang, dan belum berdiri sebagai perusahaan mandiri dalam kurun waktu lama, Moody's memilih untuk belum menerbitkan penilaian kredit dasar atau baseline credit assessment. Faktor keterkaitan dengan modal dan kebijakan negara inilah yang menjadi penentu utama peringkat kreditnya saat ini.
Walaupun belum memberikan penilaian kredit mandiri, Moody's memberikan catatan positif terhadap aspek likuiditas perusahaan. Tingkat likuiditas Danantara Investment Management dinilai berada dalam kondisi yang memadai berkat adanya dukungan suntikan modal dari BPI Danantara. Langkah ini melengkapi upaya pendanaan eksternal yang dihimpun melalui obligasi global perdana perusahaan.
Bahaya Tersembunyi di Balik Tren Gen Z Beralih ke Sektor Kerja Informal

Dua sudut pandang ini memperlihatkan dinamika menarik dalam lanskap investasi nasional. Di satu sisi, Moody's menerapkan asas kehati-hatian berdasarkan risiko sovereign dan usia entitas yang masih muda. Di sisi lain, eksekusi roadshow Danantara membuktikan bahwa investor internasional tetap menaruh kepercayaan tinggi pada prospek ekonomi Indonesia. Sinergi antara sokongan pemerintah dan keberhasilan meraih dana global menjadi modal berharga bagi Danantara untuk melangkah lebih jauh di panggung finansial internasional.






