Berita Viral Terkini

Narasi Palsu Seputar Riset Vaksin Hantavirus dan Jejak Sejarahnya Sejak Era Perang Korea

Ding Anyi ApuiPublished 26 Jul 2026 - 16.400 Reads
Bagikan WhatsAppX
Narasi Palsu Seputar Riset Vaksin Hantavirus dan Jejak Sejarahnya Sejak Era Perang Korea
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Beredarnya narasi konspirasi di media sosial sering kali memanfaatkan celah ketidaktahuan publik terhadap rekam jejak riset medis. Fenomena ini kembali terulang ketika sebuah video di platform digital menuduh produsen farmasi Moderna telah memproduksi vaksin Hantavirus sejak tahun 2023 sebagai langkah manipulatif untuk meraup keuntungan finansial. Tuduhan tersebut dengan cepat menyebar dan menggiring opini publik seolah penyebaran ancaman virus ini sengaja dirancang demi kepentingan bisnis semata.

Klaim liar yang beredar melalui berbagai akun di media sosial Facebook, Instagram, dan TikTok itu memotong fakta riset bioteknologi. Pengunggah narasi menyebutkan bahwa pemanfaatan teknologi mRNA oleh Moderna untuk virus Hanta sejak 2023 merupakan bukti adanya skenario menakut-nakuti masyarakat. Padahal, jika ditarik benang merah secara objektif, upaya riset vaksin tersebut didasari oleh rekam medis virus Hanta yang sebenarnya sudah mengintai manusia sejak puluhan tahun lalu.

Sejarah mencatat bahwa Hantavirus bukanlah ancaman biologis baru. Pada kurun waktu 1951 hingga 1953, wabah demam berdarah dengan sindrom ginjal merebak dan menginfeksi lebih dari 3.000 pasukan PBB yang bertugas dalam Perang Korea. Kejadian mematikan ini mendorong para ilmuwan melakukan penelusuran mendalam hingga akhirnya Profesor Ho Wang Lee berhasil mengisolasi virus pemicu penyakit tersebut dari tikus di sekitar Sungai Hantan pada tahun 1978. Penemuan inilah yang menjadi cikal bakal pengelompokan genus Hantavirus pada tahun 1981, dan formulasi vaksin awal untuk wilayah Asia Timur bahkan sudah mengantongi izin resmi sejak tahun 1990.

Also Read

Basarnas Hentikan Sementara Pencarian 14 Korban KM Nurul Salsa di Selayar

Karakteristik Hantavirus juga sangat berbeda dengan penyakit pernapasan lain seperti Covid-19. Jika Covid-19 menular secara massal antarmanusia melalui percikan cairan saluran pernapasan, Hantavirus justru menular ketika seseorang menghirup udara atau debu yang terpapar kotoran, air liur, maupun urine tikus liar. Dampak infeksinya pun dapat berkembang menjadi Sindrom Paru Hantavirus yang memiliki risiko kematian cukup tinggi, terutama di kawasan Benua Amerika.

Kerja sama antara Pusat Inovasi Vaksin Universitas Korea dan perusahaan bioteknologi Moderna yang disepakati pada September 2023 murni merupakan langkah riset ilmiah. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi teknologi mRNA dalam menghadapi 22 strain virus Hanta yang bersifat patogen bagi manusia. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi krisis kesehatan global di masa depan, bukan merupakan bentuk rekayasa kemunculan virus atau pembuatan produk yang siap dijual secara massal.

Also Read

Ujian Perdana Kamboja Melawan Dominasi Singapura di Piala AFF 2026

Hingga saat ini, belum ada vaksin Hantavirus berbasis mRNA buatan Moderna yang telah mendapatkan izin edar komersial untuk masyarakat umum. Para ahli virologi dan kesehatan masyarakat menekankan bahwa pengendalian populasi tikus tetap menjadi langkah paling efektif untuk memutus rantai penularan virus ini. Pemberian vaksin pun umumnya diprioritaskan bagi kelompok pekerja yang memiliki tingkat risiko keterpaparan tinggi, seperti petugas kebersihan dan anggota militer di area terbuka. Dengan demikian, prasangka bahwa riset tersebut merupakan rekayasa bisnis adalah bentuk disinformasi yang mengabaikan fakta sejarah kedokteran.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca