Perbincangan mengenai perubahan lanskap Gunung Merapi tengah menjadi sorotan di berbagai platform media sosial. Para pendaki ramai membagikan kenangan masa lalu mereka melalui unggahan foto-foto lawas yang memperlihatkan kondisi area puncak gunung tersebut di masa silam. Cerita nostalgia ini secara khusus menyoroti perbedaan mencolok bentuk puncak Merapi pada masa sekarang dibandingkan dengan keadaannya sebelum terjadi erupsi pada tahun 2006. Rangkaian dokumentasi visual yang beredar luas ini memicu perhatian publik terhadap transformasi fisik yang dialami oleh gunung tersebut seiring berjalannya waktu.
Berdasarkan berbagai foto yang diunggah oleh para pendaki, terlihat jelas bahwa kawasan puncak Gunung Merapi pernah memiliki area yang dikenal sebagai kawah mati. Pada masa itu, tepatnya sebelum letusan tahun 2006, kondisi kawah memungkinkan manusia untuk beraktivitas di dalamnya. Para pendaki pada era tersebut memiliki kebebasan untuk turun langsung ke area kawah mati. Tidak hanya sekadar turun, mereka bahkan bisa melakukan aktivitas rekreasi seperti bermain bola di lokasi yang kini wujudnya telah berubah total. Selain itu, terdapat pula rekaman visual yang memperlihatkan para pendaki menyusun sejumlah batu untuk membuat tulisan tertentu di tengah kawah.
Kenangan lain yang tidak kalah banyak dibagikan adalah potret para pendaki saat berfoto dengan latar belakang Puncak Garuda. Struktur tebing batu yang sangat ikonik pada masanya tersebut kini telah runtuh dan menghilang dari lanskap puncak. Menanggapi ramainya peredaran foto-foto nostalgia ini, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, memberikan konfirmasi resmi. Pada hari Selasa (28/7), ia membenarkan bahwa seluruh gambar yang beredar di media sosial tersebut memang merupakan potret asli kondisi puncak Merapi di masa lalu.
Aniaya Pacar di Bawah Umur, Pria di Bali Ditangkap Keluarga Korban dan Dilakban

Agus Budi Santoso menjelaskan lebih lanjut mengenai morfologi gunung tersebut sebelum rentetan aktivitas vulkanik mengubah bentuknya. Ia menyatakan bahwa bentuk puncak pada masa lalu memang jauh berbeda dengan pemandangan awan panas dan lava pijar yang kini kerap terlihat dari daerah seperti Srumbung, Magelang, Provinsi Jawa Tengah. "Sebelum 2006 ada Puncak Garuda dan puncaknya terhitung runcing," kata Agus Budi memberikan penjelasan terkait kondisi fisik gunung sebelum serangkaian perubahan terjadi. Perubahan yang paling mencolok pada bentuk puncak baru benar-benar terjadi pada tahun 2010, yang ditandai dengan runtuhnya struktur Puncak Garuda secara keseluruhan. "Pasca (erupsi) 2010 terbentuk kawah," ungkapnya.
Terkait dengan kondisi terkini, pihak BPPTKG mengeluarkan peringatan keras bagi siapa saja yang berniat melakukan pendakian. Agus Budi menegaskan bahwa Gunung Merapi saat ini berada pada status Level III atau berstatus Siaga. Dengan tingkatan status tersebut, aktivitas pendakian hingga mencapai area puncak dinilai sangat berbahaya dan tidak diperbolehkan. Ancaman keselamatan menjadi alasan utama pelarangan ini. "Saat ini kawasan puncak termasuk daerah bahaya karena sewaktu-waktu bisa terjadi erupsi eksplosif," tegas Agus Budi mengingatkan potensi ancaman yang mengintai di area tertinggi gunung tersebut.
16 Jam Berlalu, Kebakaran Timbunan Sampah di Ciumbuleuit, Bandung, Belum Padam

Status Level III atau Siaga ini diikuti dengan pemetaan potensi bahaya yang sangat rinci oleh pihak berwenang. Ancaman utama dari aktivitas vulkanik saat ini berupa guguran lava serta luncuran awan panas. Berdasarkan data BPPTKG, potensi bahaya tersebut mengarah ke beberapa sektor spesifik. Pada sektor selatan hingga barat daya, ancaman material vulkanik dapat menjangkau aliran Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal sejauh lima kilometer. Sementara itu, untuk aliran Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng, potensi bahaya guguran lava dan awan panas bisa mencapai jarak maksimal hingga tujuh kilometer dari puncak.
Pemetaan potensi bahaya juga mencakup wilayah di sektor tenggara Gunung Merapi. Di area ini, ancaman material vulkanik membidik aliran Sungai Woro dengan jarak luncur maksimal sejauh tiga kilometer. Selain itu, aliran Sungai Gendol juga masuk dalam zona bahaya dengan potensi jangkauan material hingga lima kilometer. Lebih jauh lagi, BPPTKG juga memperhitungkan skenario terburuk apabila gunung tersebut mengalami letusan yang bersifat eksplosif. Jika erupsi eksplosif terjadi, lontaran material vulkanik diproyeksikan dapat menjangkau radius hingga tiga kilometer dari pusat puncak gunung, memastikan bahwa kawasan yang dahulu aman untuk bermain bola itu kini tertutup sepenuhnya untuk aktivitas pendakian.






