Peta jalan digitalisasi di Indonesia terus bergerak seiring dengan langkah para penyedia jasa telekomunikasi yang giat meningkatkan performa infrastruktur mereka. Upaya peningkatan ini terlihat dari serangkaian pengujian teknologi baru di berbagai daerah, yang menjadi bagian krusial dari uji coba jaringan 5G operator seluler Indonesia. Langkah ini diambil demi mengejar ketertinggalan adopsi teknologi generasi kelima yang diproyeksikan baru mencapai 32 persen pada tahun 2030 mendatang.
Menurut laporan "The Mobile Economy Asia Pacific 2025" yang dirilis oleh Global System for Mobile Communication Association (GSMA), tingkat adopsi 5G di Indonesia pada tahun 2024 baru berkisar di angka 4 persen. Head of Asia Pacific GSMA, Julian Gorman, mengungkapkan bahwa lambatnya perkembangan ini dipicu oleh proses alokasi spektrum yang kurang cepat serta regulasi yang belum sepenuhnya mendukung percepatan investasi. Kondisi ini kontras dengan negara tetangga seperti Vietnam yang memberikan subsidi serta potongan harga spektrum hingga 90 persen untuk operator seluler, atau India yang mensubsidi pembangunan jaringan di luar kewajiban lisensi dasar mereka. Akibatnya, negara-negara tersebut diprediksi memiliki tingkat adopsi yang jauh lebih tinggi pada tahun 2030, seperti India sebesar 57 persen dan Vietnam sebesar 62 persen.
Meskipun menghadapi tantangan regulasi, operator seluler Tanah Air tetap aktif menggelar uji coba lapangan untuk mengoptimalkan spektrum yang tersedia. ZTE bersama operator seluler XLSmart baru-baru ini mengumumkan implementasi dan uji coba teknologi Massive MIMO FDD pada jaringan XLSmart di Kabupaten Banjar. Uji coba yang dijalankan pada spektrum FDD 1,8 GHz dan 2,1 GHz ini berhasil melipatgandakan kecepatan rata-rata pengguna data hingga lebih dari dua kali lipat, serta menaikkan total trafik sektor jaringan sebesar 20 persen setelah perangkat Active Antenna Unit (AAU) Massive MIMO FDD diaktifkan. Teknologi ini didukung oleh Director & CTO XLSmart Shurish Subbramaniam dan President Director ZTE Indonesia Richard Liang, yang menyebutkan bahwa sistem ini mendukung All-RAT yang mencakup 2G, 4G, dan 5G.
Di sisi lain, misi Telkomsel untuk menghadirkan Hyper 5G di Indonesia yang telah dimulai sejak Mei 2021 juga terus menunjukkan perkembangan. Telkomsel memperkuat jaringan 5G contiguous mereka di kawasan Bandung Raya, yang ditopang oleh 172 unit Base Transceiver Station (BTS) 5G aktif yang tersebar di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, hingga Majalengka. Uji coba internal di area Dago menunjukkan kecepatan unduh jaringan Hyper 5G mencapai 730 Mbps dengan rata-rata 241 Mbps, serta kecepatan unggah hingga 161 Mbps dengan rata-rata 88 Mbps. Jeda jaringan atau latency juga tercatat pada angka terendah 13 ms dengan rata-rata 22 ms. Network Director Telkomsel Indra Mardiatna dan Vice President Area Network Operation Jabotabek Jabar Iswandi mencatat bahwa penetrasi perangkat 5G di Bandung telah menyentuh 23 persen, dengan konsumsi data pelanggan mencapai 202 GB per bulan.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, para penyedia layanan dituntut terus melakukan optimasi jaringan sembari menanti kebijakan alokasi spektrum yang lebih akomodatif. Keberhasilan uji coba teknologi pemancar baru dan perluasan BTS 5G di berbagai daerah akan menjadi fondasi penting bagi kesiapan industri telekomunikasi nasional dalam menghadapi lonjakan trafik data dan memperluas adopsi jaringan generasi kelima di masa depan.






