Ribuan pekerja manufaktur Boeing di wilayah Pantai Barat Amerika Serikat telah resmi menyetujui kontrak kerja baru, yang secara efektif mengakhiri aksi mogok kerja selama lebih dari tujuh pekan. Keputusan krusial ini diambil setelah para anggota serikat pekerja International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) Distrik 751 dan W24 melakukan pemungutan suara terhadap proposal terbaru dari manajemen. Langkah ini menandai titik balik penting bagi raksasa kedirgantaraan tersebut yang tengah berupaya keras memulihkan stabilitas operasional dan keuangannya.
Dalam pemungutan suara yang digelar baru-baru ini, sekitar 59 persen anggota serikat pekerja memberikan suara setuju untuk menerima tawaran kontrak yang direvisi. Kesepakatan baru ini mencakup kenaikan upah sebesar 38 persen yang didistribusikan selama empat tahun ke depan, serta bonus ratifikasi sekali bayar sebesar 12.000 dolar AS. Meskipun tuntutan awal pekerja untuk mengembalikan skema pensiun manfaat pasti tradisional tidak terpenuhi, peningkatan kontribusi perusahaan pada program pensiun modern dinilai cukup memuaskan bagi mayoritas pekerja untuk kembali bekerja.
Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu Jadi Rp2,592 Juta per Gram

Aksi mogok kerja yang dimulai sejak pertengahan September 2024 ini melibatkan sekitar 33.000 pekerja mekanik dan melumpuhkan sebagian besar fasilitas produksi Boeing di wilayah Seattle. Akibatnya, perakitan pesawat komersial utama seperti seri 737 MAX, 777, dan 767 terhenti sepenuhnya. Penghentian produksi ini memicu efek domino yang merugikan rantai pasok industri penerbangan global, karena ratusan pemasok suku cadang skala kecil dan menengah terpaksa merumahkan karyawan mereka akibat terhentinya pesanan dari Boeing.
Secara finansial, mogok kerja ini memberikan tekanan yang sangat berat bagi Boeing yang sebelumnya sudah didera berbagai krisis keselamatan. Perusahaan diperkirakan kehilangan pendapatan miliaran dolar AS selama masa mogok kerja, yang memaksa manajemen untuk melakukan penggalangan dana sebesar 21 miliaran dolar AS melalui penjualan saham guna menjaga likuiditas dan mempertahankan peringkat kredit investasi mereka. CEO Boeing yang baru, Kelly Ortberg, kini dihadapkan pada tantangan besar untuk mengonsolidasikan kembali keuangan perusahaan sambil meredam ketegangan hubungan industrial.
Sebelum Dicopot, Purbaya Sempat Soroti Perusahaan Asing yang Sepelekan Aturan RI

Meskipun kesepakatan telah tercapai, proses pemulihan operasional Boeing diperkirakan tidak akan berlangsung instan. Manajemen menyatakan bahwa para pekerja akan kembali ke pabrik secara bertahap, dan diperlukan waktu beberapa minggu untuk menstabilkan kembali jalur perakitan karena adanya protokol keselamatan ketat yang harus dipatuhi. Ke depan, Boeing tidak hanya harus mengejar ketertinggalan target pengiriman pesawat kepada maskapai pelanggan, tetapi juga membuktikan kepada regulator penerbangan bahwa mereka dapat meningkatkan kualitas produksi di tengah proses transisi pasca-mogok ini.






