Penjualan mobil listrik di Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025 saja, angka penjualan mobil listrik di tanah air mengalami kenaikan yang mencapai hingga 113 persen. Lonjakan ini terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan data beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2021, penjualan mobil listrik di Indonesia tercatat hanya sebanyak 272 unit. Namun, angka tersebut melonjak tajam hingga berhasil menembus lebih dari 114.000 unit pada tahun 2025. Dengan pertumbuhan yang pesat ini, kendaraan listrik kini diperkirakan telah menyumbang sekitar 11 hingga 12 persen dari total keseluruhan kendaraan secara nasional di Indonesia.
Melihat tren positif perkembangan kendaraan listrik yang terus meningkat, langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi dalam negeri menjadi semakin krusial. Dalam hal ini, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan, mendorong penuh pelaksanaan hilirisasi nikel di dalam negeri agar dapat terus dikembangkan hingga ke tingkat industri baterai. Sebagai Ketua Fraksi PAN DPR RI, beliau menekankan pentingnya penguatan rantai pasok industri dari hulu ke hilir demi mendukung kebutuhan masa depan. Hilirisasi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang maksimal bagi perekonomian nasional dengan memanfaatkan kekayaan mineral yang melimpah di tanah air.
Pembatasan Pertalite Dimulai 1 Oktober 2024, Pendaftaran QR Code Tahap Satu Ditargetkan Rampung Akhir September

Kekuatan utama Indonesia dalam mendukung industri kendaraan listrik global terletak pada cadangan nikelnya yang sangat melimpah. Indonesia diperkirakan memiliki cadangan nikel yang berkisar antara 5,3 hingga 5,9 miliar ton. Jumlah cadangan yang luar biasa besar ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia. Bahkan, estimasi lain menunjukkan bahwa cadangan nikel yang dikuasai Indonesia dapat mencapai lebih dari 50 persen dari total cadangan nikel yang ada di seluruh dunia. Kepemilikan cadangan nikel yang dominan ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat strategis dalam peta industri energi hijau global.
Guna merealisasikan potensi cadangan nikel tersebut menjadi produk bernilai tinggi, pemerintah Indonesia telah merancang langkah konkret berupa pembangunan fasilitas produksi baterai untuk kendaraan listrik. Fasilitas atau pabrik baterai ini direncanakan akan dibangun di wilayah Karawang, Jawa Barat. Pembangunan proyek ekosistem baterai yang terintegrasi ini melibatkan kolaborasi erat antara berbagai badan usaha penting, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), serta pihak konsorsium yang terdiri atas CATL, Brunp, dan Lygend (CBL). Untuk memperkuat fondasi kerja sama ini, IBC mengintegrasikan berbagai kekuatan dan sumber daya dari BUMN besar tanah air, yang meliputi Grup MIND ID, Pertamina, dan PLN.
IHSG Melesat 1 Persen Lebih, Ditopang Saham Prajogo Pangestu dan Sentimen Global

Upaya untuk membangun ekosistem baterai yang mandiri dan terintegrasi juga mencakup pengembangan komponen-komponen utama baterai di dalam negeri. Salah satu komponen krusial adalah katoda, yang diperkirakan menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya produksi baterai secara keseluruhan. Di samping pengembangan katoda, langkah inovatif juga dilakukan oleh PT Bukit Asam yang mulai mengembangkan artificial graphite untuk digunakan sebagai material anoda baterai. Seluruh rangkaian pengembangan ekosistem baterai nasional ini berjalan di bawah koordinasi strategis BUMN sektor pertambangan. Peran penting ini dijalankan secara aktif oleh MIND ID, yang saat ini dipimpin oleh Maroef Sjamsoeddin selaku Direktur Utama.






