Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2026 berada di angka 5,29 persen secara tahunan (yoy). Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan capaian triwulan pertama tahun yang sama sebesar 5,61 persen. Di tengah situasi tersebut, pemerintah tetap mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, dengan sasaran antara di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada tahun 2027. Langkah akselerasi ini membuat publik kini menanti peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menuju pertumbuhan 8 persen melalui serangkaian proyek strategis dan efisiensi korporasi negara.
Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan realisasi investasi sebesar US$789,9 miliar dalam lima tahun ke depan untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen tersebut. Nilai investasi yang ditargetkan ini setara dengan total realisasi investasi nasional sepanjang periode 2014 hingga 2024 yang mencapai sekitar US$789,9 miliar. Guna menopang target tersebut, sekitar 30 persen dari realisasi investasi nasional pada tahun 2025 diharapkan bersumber dari program hilirisasi, terutama pada sektor mineral dan energi.
Prabowo Ungkap Pembangunan Ekosistem Mobil Listrik di Subang, Targetkan Produksi Massal 2028

Dalam mendukung visi ini, Danantara mengawal pengembangan 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan total nilai investasi mencapai Rp225 triliun. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 37.833 tenaga kerja. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa pengerjaan proyek ini dibagi ke dalam dua fase. Fase I dimulai melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) pada 6 Februari 2026, yang mencakup enam proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp109 triliun dan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja. Sementara itu, Fase II dijadwalkan memulai groundbreaking pada 29 April 2026, meliputi 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp116 triliun serta perkiraan penyerapan 26.377 pekerja.
Selain fokus pada investasi fisik, restrukturisasi internal badan usaha milik negara (BUMN) juga terus digulirkan. Hingga 31 Juli 2026, sebanyak 274 perusahaan pelat merah telah berhasil ditata. Program perampingan ini menargetkan penghapusan 652 BUMN dari total awal 1.074 perusahaan, sehingga nantinya hanya menyisakan antara 250 hingga 300 BUMN pada 31 Desember 2026. Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kinerja Danantara yang telah memangkas 250 BUMN lewat konsolidasi dan merger dalam 18 bulan pertama pemerintahannya. Pengurangan ini berhasil menghemat biaya rutin atau overhead sekitar Rp50 triliun, dan Presiden memperkirakan nilai penghematan tersebut dapat mendekati Rp70 triliun hingga Rp80 triliun pada akhir Desember mendatang.
Wamen Investasi Bocorkan Timah Solder Malaysia Lebih Murah dari RI

Dari sisi dunia usaha, Presiden Prabowo Subianto juga telah mengadakan pertemuan dengan jajaran Kadin Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Umum Anindya Novyan Bakrie di Istana Negara pada Jumat, 31 Juli. Upaya memacu pertumbuhan ekonomi ini juga sejalan dengan langkah kementerian terkait, seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Perdagangan Budi Santoso di sektor masing-masing. Jalannya reformasi ekonomi ini pun terus mendapat perhatian dari berbagai pengamat, salah satunya Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti.






