Perayaan Tahun Baru Yahudi di Phuket, Thailand, resmi dibatalkan pada menit-menit terakhir pada Jumat (11/9) malam akibat pertimbangan faktor keamanan. Keputusan pembatalan kegiatan keagamaan tersebut diambil setelah berlangsungnya aksi unjuk rasa pro-Palestina yang digelar di kawasan Patong.
Berdasarkan laporan Bangkok Post, aksi protes tersebut diikuti oleh sekitar 500 orang dari kelompok yang menamakan diri Save Phuket. Dalam aksi tersebut, para peserta membawa poster bertuliskan "Selamatkan Phuket, Bukan Israel" serta menyuarakan seruan "Free Palestine".
Selain itu, massa aksi juga menyampaikan pesan yang bernada mengancam. Mereka menyatakan tengah memantau situasi di sekitar pelaksanaan agenda Tahun Baru Yahudi di kawasan Patong, sembari menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi sedang berada di dalam vila-vila mewah.
Kemarau Bikin Sungai Kering, Distribusi CPO dan Pembelian TBS Petani Terganggu

Penyesuaian Jumlah Peserta Sebelum Pembatalan
Sebelum pembatalan penuh diputuskan, pihak penyelenggara perayaan Rosh Hashanah awalnya memperkirakan acara tersebut akan dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta. Namun, menyusul konsultasi dengan para pejabat keamanan di Phuket, panitia sepakat untuk membatasi skala kegiatan menjadi sekitar 700 peserta. Kendati telah dilakukan penyesuaian kapasitas, acara tersebut pada akhirnya tetap dibatalkan menjelang jadwal pelaksanaan demi alasan keamanan.
Sorotan Media dan Tanggapan Internasional
Peristiwa di Phuket ini mendapat perhatian luas dari berbagai media di Israel. Surat kabar Jerusalem Post memberitakan kampanye yang dilakukan kelompok Save Phuket, dengan menyoroti bahwa pihak pengunjuk rasa berupaya membenarkan tindakan mereka dengan membingkai protes tersebut sebagai langkah penting untuk melindungi tradisi dan adat istiadat masyarakat Thailand dari gangguan pihak asing.
Polisi Amankan Obat Kurus Ilegal Senilai Rp26 M dari Rumah Kontrakan

Di tingkat internasional, isu ini juga menuai respons dari perwakilan resmi Amerika Serikat. Dilansir The Times of Israel, Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Memantau dan Memerangi Antisemitisme, Rabi Yehuda Kaploun, menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya retorika antisemitisme di Thailand.






