Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami fluktuasi yang menjadi sorotan sepanjang pekan terakhir bulan Juli. Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan hingga menembus level psikologis Rp18.100 per dolar AS. Meskipun tren penurunan ini cukup signifikan, para analis pasar uang menilai bahwa pelemahan tersebut tidak serta-merta akan langsung berlanjut ke level Rp18.500 per dolar AS dalam waktu dekat. Pergerakan nilai tukar ini masih akan sangat bergantung pada berbagai sentimen global maupun respons pemerintah terhadap isu-isu domestik yang ada.
Sepanjang pekan terakhir Juli, pergerakan rupiah beberapa kali menyentuh level psikologis Rp18.100 per dolar AS. Berdasarkan data perdagangan, mata uang domestik ini ditutup pada level Rp18.100 per dolar AS pada tanggal 28 Juli. Tekanan terhadap rupiah ternyata masih berlanjut pada keesokan harinya. Pada tanggal 29 Juli, nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan hingga berada di posisi Rp18.108 per dolar AS. Puncak dari tren pelemahan tersebut terjadi pada tanggal 30 Juli, ketika rupiah merosot dan menyentuh level Rp18.111 per dolar AS, yang sekaligus tercatat sebagai level terlemah sepanjang pekan tersebut.
Memasuki akhir pekan, tekanan terhadap mata uang Garuda mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada perdagangan hari Jumat (31/7), nilai tukar rupiah berhasil berbalik arah dan mencatatkan penguatan. Rupiah ditutup pada level Rp18.022 per dolar AS pada sesi perdagangan tersebut. Posisi penutupan di hari Jumat ini mencerminkan kenaikan sebesar 89 poin, atau menguat sekitar 0,49 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya.
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.592.000 per Gram pada 15 September 2026

Menanggapi dinamika pergerakan nilai tukar tersebut, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya terkait prospek rupiah. Menurut Lukman, secara jangka pendek rupiah masih memiliki peluang yang cukup besar untuk bertahan di bawah level Rp18.500 per dolar AS. Ia menjelaskan bahwa tekanan yang dialami oleh rupiah belakangan ini sebagian besar masih bersumber dari faktor-faktor eksternal. Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan tersebut meliputi fluktuasi harga minyak dunia serta arah prospek kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Lebih lanjut, Lukman Leong menyoroti bahwa sejumlah perkembangan terakhir di tingkat global turut memengaruhi dinamika pasar. Ia mencatat bahwa rilis data ekonomi Amerika Serikat yang terbaru menunjukkan hasil yang sangat negatif bagi pergerakan dolar AS. Kondisi data ekonomi Amerika Serikat yang negatif bagi dolar AS ini menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan dalam melihat arah pergerakan nilai tukar ke depannya. Hal ini sejalan dengan penilaian bahwa tekanan terhadap rupiah selama ini lebih banyak didorong oleh faktor eksternal seperti prospek suku bunga The Fed dan harga minyak dunia.
Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu Jadi Rp2,592 Juta per Gram

Di sisi lain, pengamat pasar uang Ariston Tjendra memberikan analisis bahwa peluang bagi rupiah untuk melemah hingga mencapai level Rp18.500 per dolar AS masih tetap terbuka. Menurut Ariston, kecepatan dari laju pelemahan rupiah tersebut akan sangat ditentukan oleh sejauh mana pemerintah merespons berbagai program atau kebijakan yang saat ini tengah disorot secara tajam oleh pelaku pasar. Selain faktor domestik tersebut, perkembangan situasi konflik geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS), juga menjadi variabel penentu yang sangat penting.
Ariston Tjendra menambahkan peringatan terkait dampak rambatan dari ketegangan geopolitik tersebut. Apabila konflik bersenjata memanas dan kembali memicu lonjakan harga energi secara masif, hal tersebut berpotensi besar memicu kenaikan inflasi global. Dalam skenario di mana inflasi dunia kembali melonjak, The Fed memiliki potensi untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan awal. Situasi ini pada akhirnya dapat memperkuat posisi dolar AS, sekaligus memberikan tekanan tambahan yang berat terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.






