Berita Viral Terkini

Pertamina Pacu Transisi Energi Lewat Proyek Kilang Hijau

Rimba NainggolanPublished 25 Jul 2026 - 22.451 Reads
Bagikan WhatsAppX
Pertamina Pacu Transisi Energi Lewat Proyek Kilang Hijau
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Indonesia baru saja mencatatkan sejarah global dengan meresmikan program mandatori biodiesel 50 persen (B50) pada Juli 2026. Di balik gegap gempita kebijakan yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut, ada pergerakan krusial yang sedang berlangsung di dapur produksi PT Pertamina Patra Niaga. Perusahaan pelat merah ini tidak hanya sibuk mempersiapkan infrastruktur pencampuran solar dengan minyak sawit, melainkan juga sedang gencar menyulap kilang-kilang minyak konvensional mereka menjadi kilang hijau (green refinery).

Langkah transformasi ini menjadi strategi utama Pertamina untuk melepaskan diri dari belenggu impor bahan baku energi. Melalui investasi pada kilang hijau, khususnya di Kilang Cilacap, Pertamina memfokuskan produksinya pada produk ramah lingkungan berteknologi tinggi seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF). Diversifikasi ini menunjukkan bahwa peta jalan transisi energi nasional tidak hanya menyasar kendaraan darat, melainkan juga sektor penerbangan yang selama ini dikenal sulit didekarbonisasi.

Tidak berhenti di Cilacap, kilang lain seperti Kilang Balongan juga dilibatkan dalam proyek ambisius ini melalui penerapan teknologi co-processing. Teknologi ini memungkinkan Pertamina memproduksi bio-gasoline guna menutup celah kebutuhan bensin nasional yang masih tinggi. Melalui pemanfaatan sumber daya domestik, ketergantungan terhadap impor bahan baku dapat ditekan secara bertahap. Taufik Aditiyawarman selaku Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat ketahanan kapasitas energi di tanah air.

Also Read

Ketegangan Jalur Pelayaran Global Menjaga Harga Minyak di Dekat Level Seratus Dolar

Sementara proyek jangka panjang kilang hijau terus berjalan, implementasi B50 di lapangan juga menunjukkan perkembangan pesat. Hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 82 persen SPBU di seluruh Indonesia telah menyediakan bahan bakar ramah lingkungan ini. Pertamina menargetkan transisi penuh dari B40 ke B50 rampung 100 persen secara nasional pada September mendatang. Untuk menjamin performa mesin kendaraan masyarakat tetap prima, Pertamina menerapkan standar pengawasan ketat melalui pengujian 14 parameter di laboratorium internal sebelum produk didistribusikan ke masyarakat, yang juga secara reguler diverifikasi oleh Lemigas.

Keberhasilan transisi menuju energi hijau ini membawa dampak ekonomi dan lingkungan yang sangat masif bagi Indonesia. Payung hukum seperti Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan Kepmen ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 menjadi landasan kuat jalannya program ini. Kementerian ESDM memproyeksikan penghematan devisa negara berpotensi menembus Rp 170 triliun per tahun. Selain itu, kebijakan ini diperkirakan memberikan nilai tambah industri CPO sebesar Rp 23,49 triliun per tahun, menyerap hingga 2,1 juta tenaga kerja, serta menekan emisi karbon hingga 44,46 juta ton per tahun.

Also Read

AS Terapkan Tarif Impor Baru dan Indonesia Kena Sepuluh Persen

Dengan menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori B50, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto ingin membuktikan kedaulatan energinya. Melalui sinergi antara kebijakan mandatori biodiesel dan modernisasi kilang hijau oleh Pertamina, Indonesia perlahan namun pasti sedang membangun fondasi baru yang kokoh untuk ketahanan ekonomi dan kemandirian energi di masa depan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca